Polemik puyer sudah berlalu. Pemerintah melalui Menkes menyatakan bahwa puyer masih dibutuhkan dan aman dikonsumsi sejauh mentaati ketentuan yang berlaku. Ini berarti bahwa dokter masih diperkenankan meresepkan puyer asalkan rasional dan apoteker berkewajiban melakukan penjaminan mutu dalam proses meraciknya.
Karena adanya polemik puyer saya menegaskan bahwa program no pharmacist no service menjadi sangat mendesak untuk diimplementasikan, meski kemudian sejawat Ferdi berbeda pendapat. Saya tidak bermaksud membuka polemik baru. Saya hanya ingin mengajak sejawat menyelami sebuah cerita (entah kisah nyata atau bukan) yang mungkin bisa menginspirasi kita.
Begini ceritanya. Alkisah ada seorang ibu tua, gemuk dengan senyum jenaka dan lesung pipit yang membuatnya tetap terlihat cantik. Dia adalah seorang pedagang nasi yang harganya sangat murah. Segmen pasar yang dituju adalah para kuli bangunan. Bagi mereka, ibu itu tak ubahnya seorang primadona. Bukan karena cantiknya, karena usianya sudah setengah baya. Bukan karena lezatnya makanan, karena nasi bungkusnya tidaklah terlalu istmimewa, hanya nasi dengan sedikit lauk, itupun dengan bumbu yang seadanya. Tapi karena harganya yang supermurah itu.
Ketika ibu itu ditanya, adakah untungnya ? Dia tersenyum dan menjawab, “Bagi saya sekedar bisa nderek makan gratis dan beli sabun saja sudah cukup.” Dan ketika ditanya, mengapa tidak dinaikkan saja harganya seiring dengan kenaikan harga beras, minyak dan bumbu yang tidak tertahan ? Sekali lagi dia tersenyum sambil menjawab, “kalau dinaikkan, terus bagaimana mereka makan?“
Dengan cara lain, Kahlil Gibran berpuisi yang sebagian penggalannya sebagai berikut :
Kerja adalah cinta yang mengejawantah
Dan jika kau tiada sanggup bekerja dengan cinta,
Hanya dengan enggan
Maka lebih baik jika kau meninggalkannya
Lalu mengambil tempat di depan gapura candi
Meminta sedekah dari mereka
Yang bekerja dengan suka cita..
Sejawat, mengambil inspirasi dari cerita dan penggalan puisi tersebut, maka sebagai apoteker sudah seharusnya kita mengabdikan profesi dengan cinta. Tanpa dilandasi rasa cinta, pengabdian profesi akan terasa berat. Apalagi ditengah persaingan yang seakan makin tidak mengenal etik.
Sebagai ahlinya obat kita berperan besar melindungi konsumen dari serbuan produk-produk industri farmasi yang senantiasa berusaha menciptakan demand meski mungkin belum tentu dibutuhkan. Orientasi industri adalah mendapatkan return yang optimal atas investasi yang dibelanjakan. Melalui asuhan kefarmasian kita bisa memberikan perlindungan kepada masyarakat dari gencarnya upaya mengkomersialkan obat.
Program no pharmacist no service merupakan wujud kongkrit dari pengabdian profesi apoteker di apotek. Konsumen yang datang ke apotek dan dilayani oleh langsung oleh apoteker akan lebih terlindungi meski yang bersangkutan hanya sekedar membutuhkan multivitamin atau analgesik. Mereka tidak hanya membutuhkan obatnya saja, tapi juga penjelasan akan manfaat dan hal-hal lain yang terkait dengan obat tersebut.
Memang kelihatan sangat ideal, dan butuh pengorbanan. Tapi itulah kewajiban apoteker dan hak konsumen. Jadi, yang kita butuhkan dalam mengabdikan profesi kita, selain kompetensi adalah cinta.
Benar apa kata the Beatles, ALL YOU NEED IS LOVE…
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
salam…
saya sangat mencintai dunia farmasi, seluruh kegiatan saya bergerak dibidang farmasi, bahkan saya katakan APA harus PSA, kita apoteker harus memperjuangkan agar peraturan izin Apotek harus diberikan kepada Apoteker juga.
Dengan demikian profesi apoteker menjadi dihargai, jika Apoteker bermain mata dengan ‘PSA’ yang bukan sebenarnya, minimal APA sudah lebih dihargai, otomatis eksistensi apotekerpun akan dihargai.
Saya sangat mencintai pekerjaan kefarmasian ini, benar seperti kata tulisan ini ‘All You Need is Love’.
Saya punya pengalaman dengan pasien :
Ada beberapa pasien saya tidak mau resepnya diracik jika saya (apoteker) dan Isteri saya (apoteker juga)belum ditempat, dia akan menunggu sampai saya sampai ada ditempat, saya selalu mengatakan kepada asisten, jika ada resep racikan harus berkonsultasi dahulu dengan saya saat saya tidak ada, jika ada resep tanpa racikan juga tetap harus konsultasi dengan saya, jadi setiap transaksi peresepan harus melalui saya APOTEKER.
Maksud saya tidak setuju dengan TATAP, ada saatnya kita sebagai apoteker tidak ditempat, bagaimana mungkin apotek kita tutup? Tetapi kita harus bisa berkomunikasi terus dengan asisten, dan setiap peresepan harus selalu melalui persetujuan apoteker. Saya mau tanya, JIKA terjadi kesalahan dalam peresepan itu semua kesalahan siapa? Semuanya kesalahan apoteker, jadi itu tanggung jawab apoteker, Perlu saya ingatkan lagi, Apoteker harus kerja TOTAL diapotek, saya tidak setuju dengan kerja rangkap.
Saya hanya mengkritik TATAP, jika diterapkan maka apotek bisa berkonotasi negatif, buka-tutup, BISA BUKA, TETAPI TIDAK MENERIMA RESEP RACIKAN, Resep Non Racikan hanya melalui konsultasi dengan apoteker, Dan Yang penting diingat, jika terjadi kesalahan khan itu semua RESIKO DITANGGUNG APOTEKERNYA? DAN KALAU APOTEKER TIDAK DITEMPAT, AKAN TERJADI PENYIMPANGAN DAN APOTEK SULIT BERKEMBANG.
Yang penting diperjuangkan :
1.PSA haruslah seorang Apoteker agar apoteker lebih dihargai
2.Peraturan Kesehatan tentang dispensing
3.Tata Cara penulisan Resep Dokter
Saya berjanji suatu saat kalau ketemu Menkes akan saya utarakan hal ini…..
Saya akan membuka sedikit kebobrokan kita sendiri. Pada saat saya mau buka cabang apotek saya, diharuskan untuk mengurus rekomendasi kepada salah seorang ketua ISFI, pada saat pengurusannya saya diharuskan untuk membuat perjanjian TATAP, saya harus datang ke APOTEK ketua ISFI tersebut.
Alangkah kesalnya saya, hampir seminggu saya menunggu dan datang ke apotek tersebut sekalipun tidak ketemu dengan ketua ISFI tersebut, padahal saya hendak melakukan pengurusan rekomendasi salah satu didalamnya perjanjian TATAP, Saya saat itu mengancam akan melaporkan hal ini kepada ketua ISFI pusat, akhirnya saya hanya mendapat rekomendasi tetapi tanpa ketemu dengan ketua ISFI, yaitu melalui perantara……
Saya banyak mengetahui petinggi ISFI yang membuat peraturan TATAP tidak pernah hadir di apoteknya, Saya siap membeberkan, SAYA tidak mau munafik, saya dan isteri saya adalah apoteker, saya total 100 % di apotek, makanya saya hanya membuat suati SOLUSI, SAYA tidak setuju TATAP, tetapi dibuat peraturan yang lebih ketat, jika tidak ada apoteker, jangan terima resep racikan, saya terapkan metode ini di apotek saya, walaupun apoteker ada 4 atau 5, ada saatnya semuanya tidak bisa hadir, apakah apotek harus tutup?
Saya bukannya cari sensasi, TETAPI ITULAH YANG KITA HADAPI DILAPANGAN, saya bisa tunjuk apotek para petinggi ISFI yang demikian, dan apoteknya ternyata TUTUP………….
Jadi Apoteker kalau tidak di apotek, pasti apoteknya akan sulit bersaing.
Saya berulang2 mengatakan, kita perlu perjuangkan agar APA dan PSA harus Apoteker, itu saja, agar Profesi apoteker dihargai, apa sulit nya???? Toh tinggal bilang aja ke tiap tiap dinkes…
Dan kepada Menkes kita harus mengatakan bahwa dibuatkan UU tentang penulisan Resep, agar Apoteker tidak bingung, karena banyak kepentingan didalam penulisan resep, kalau perlu kita buka2 an……
Maaf kalau saya berbeda dengan petinggi ISFI yang membuat peraturan TATAP……….
Kita memang belum banyak punya role model (teladan/panutan) apoteker yang ideal. Dengan sejawat membeberkan pengalamannya disini saya pikir sangat berharga bagi kita semua. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari pengalaman tersebut.
Memang untuk saat ini program TATAP bisa dianggap terlalu ideal. Tapi kita harus punya tekad mewujudkannya.
Meski tidak identik tapi mungkin bisa dianalogikan dengan praktek dokter. Pasien tidak akan dilayani oleh profesi lain kecuali dokter. Kondisi ini tercipta karena para dokter memegang teguh kewenangan mendiagnosa dan tidak mau mendelegasikannya kepada profesi lain.
Kalau dari pengalaman sejawat Ferdi, sebenarnya sejawat bisa menjadi role model bagi kita semua lho..
ebenarnya Praktek Dokter juga melakukan banyak penyimpangan terhadap ‘TATAP’ nya mereka :
Saya sebenarnya banyak mau tanya sama Menkes salah satunya masalah TATAP untuk dokter : (Tolong dibantu menyampaikan kepada Menkes)
SUDAH MENJADI RAHASAIA UMUM, banyak PRAKTEK DOKTER DAN KLINIK, tetapi dokter tidak ada ditempat, malah memakai perawat saja untuk memeriksa dan menulis resep (bertingkah seperti dokter).
Malah yang lebih ekstrim dokter tidak ada di klinik hanya mencatut, jadi perawat memakai baju dokter.
Kemarin saya mendambrat salah satu klinik dekat apotek saya, karena salah menulis dosis, saya curiga yang nulis bukan dokter, pasien adalah pelanggan saya, jadi tidak mau menebus di klinik yg bersangkutan, ternyata setelah saya selidiki memang perawat yang menulis resepnya, saya tantang dokternya berdebat masalah obat diresepnya, Dosis obat tersebut adalah 3 kali sehari, tertulis adalah 1 kali sehari.
Ada jenis-jenis penyimpangan di Klinik dan Praktek Dokter
1.Perawat Menulis resep, setelah berkomunikasi dengan dokter melalui HP.
2.Perawat menulis Resep, tanpa adanya dokter, dan mengaku sebagai dokter.
Saya kembali kepada TATAP :
Saya hanya memohon kepada petinggi ISFI, jangan membuat peraturan hanya untuk menekan kita yang masih muda ini, padahal para senior kita dengan enaknya melanggar peraturan yang dibuat sendiri.
Sekarang, untuk mendapatkan rekomendasi ISFI harus mengeluarkan proses yang rumit, pakai wawancara segala dan biaya pendaftaran ratusan ribu, sungguh sangat mempersulit kita……..
Apakah bapak2 petinggi tidak mengetahui betapa sakitnya kita yang baru memulai dari bawah ini?
Padahal bapak2 dulu begitu enaknya, sekarang giliran kita yang kena getahnya…
Maaf pak…saya agak keras, ini hanya mewakili sebagian kecil anggota ISFI yang pernah merasakannya
saya sependapat dan mendukung pa ferdi, karena saya juga pernah merasakan apa yang bapak rasakan dan alami……mungkin saya tidak perlu berkomentar banyak, dari apa yang disampaikan pa ferdi sudah cukup mewakili pendapat saya. trims.maju terus pa ferdi, naju terus apoteker indonesia.
tambahan, rekomendasi di ISFI tempat saya diharuskan melampirkan rincian bisnis plan apotek. hal yang menurut saya tidak perlu. jadi tolonglah permudah apoteker muda yang ingin membuka apotek sendiri
4 jempol buat portal ini…amat sangat bermanfaat, Terima kasih P Heri (maaf kalo salah nama)..
Sedikit tambahan tentang arogansi para “senior” sejawat apoteker, dulu di daerah saya dimana dengan dalih agar tidak terjadi persaingan tidak sehat mereka berusaha membuat peraturan yang inti/tujuannya agar tidak berdiri apotek baru didekatnya….
Dan parahnya lagi dikaitkan dengan kode etik apotek dimana dianggap apoteker calon apotek baru tersebut melanggar kode etik/tidak beretika!!! (capek deh..) secara pribadi sy bertanya siapakah yang tidak beretika dalam hal ini????!!!!
Saya juga setuju sekali dengan saudara Ferdi dimana Apoteker hanya dapat didirikan oleh APOTEKER, hilangkan PSA dalam peraturan tersebut.
Bagaimana apabila Apoteker tidak punya cukup modal untuk mendirian apotek baru bila tanpa PSA??? banyak cara yg dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut….
Salah satunya BEKERJASAMALAH sesama APOTEKER…dan msh banyak cara yang lain…..
Masukan buat ISFI : Lakukan tugas dan wewenang sesuai dengan porsinya…..Rekomendasi boleh diadakan tapi untuk mendapatkan rekomendasi tsb jangan sampai mempersuli anggota, terutama anggota yang baru…..
Sy Apoteker..sy bangga akan profesi sy..