Ups.. jangan ge er dulu sejawat.., karena itu bukan atau belum terjadi di negara kita.
Saya menemukan 2 artikel yang menurut penilaian saya cukup menarik untuk kita jadikan motivasi dalam mempraktekkan, membangun dan mengembangkan profesi kita. Artikel pertama adalah Pharmacist labeled a “recession proof” job, dimana disitu disebutkan bahwa profesi apoteker termasuk salah satu diantara 10 besar jenis profesi yang tahan resesi. Artikel yang kedua bertajuk Salary Survey: Pharmacist salaries continue to climb.
Ada hal yang mencuri perhatian dan merupakan benang merah yang menghubungkan kedua artikel tersebut. Bila diperhatikan dengan seksama dalam kedua artikel tersebut faktor pendorongnya adalah adanya permintaan yang tinggi disatu sisi dan masih terbatasnya pasokan apoteker disisi lain. Yah.. sesuai hukum permintaan dan penawaran. Jadi wajar saja bukan ?
Bagaimana dengan kondisi di Indonesia ? Mari kita tengok bersama.
Populasi apoteker di Indonesia pada saat ini berjumlah sekitar 28.000 orang dengan rata-rata pasokan sekitar 3.000 orang per tahun. Angka ini melonjak tajam sejak marak berdiri institusi pendidikan yang menyelenggarakan program studi farmasi 10 tahun terakhir. Oleh sebab itu, setahu saya, untuk sementara waktu ijin pendirian program studi farmasi dihentikan mengingat pasokannya dianggap sudah lebih dari cukup.
Dalam kontek ini ijinkan saya menyoroti praktek profesi apoteker di apotek. Anggaplah jumlah apotek sekarang ada 8.000 buah. Bila setiap apotek minimal ada 2 apoteker maka jumlah apoteker yang terserap dalam sektor ini berjumlah 16.000 orang. Pertanyaannya adalah, apakah jumlah apoteker di apotek sudah memadai ? Kemudian, apakah jumlah apotek yang ada tidak akan bertambah lagi ?
Untuk pertanyaan pertama saya mempunyai jawaban selagi apotek buka 14 jam sehari maka bila apotek tersebut dikawal oleh 2 apoteker maka bisa dianggap sudah memadai. Untuk pertanyaan kedua saya bisa memastikan jawabannya adalah terus bertambah. Berapa laju pertumbuhannya ? Relatif. Tapi kalau melihat jumlah pertumbuhan penduduk serta kecenderungan adanya pemekaran wilayah ditambah lagi hembusan angin otonomi daerah yang makin kencang, maka angka pertumbuhan 5% per tahun termasuk konservatif.
Dengan demikian maka angka serapan apoteker di sektor apotek akan mencapai minimal 800 orang per tahun. Meski hanya sekitar 27% dari total pasokan tapi itu bukanlah angka yang statis. Angka tersebut bisa menjadi dinamis bila kinerja apoteker di apotek dirasakan langsung oleh para stakeholder.
Mengapa demikian ?
Mari kita coba selami apa yang terjadi. Bila kita memakai pola pikir “human capital” maka kita bisa melihat bahwa apoteker sebagai manusia ibarat sebuah mesin yang memiliki fitur lengkap, tetapi utilisasinya sangat tergantung kepada ‘pemilik’nya. Sebagai sebuah mesin yang utuh, apoteker seharusnya adalah mesin yang bisa ‘bergerak sendiri’, karena dialah pemilik mesin itu sendiri.
Permasalahan mendasar tentang kinerja apoteker di apotek adalah adanya tendensi yang sangat kuat bahwa mereka belum mendayagunakan kapasitasnya secara optimal. Kalau diibaratkan handphone, apoteker minimal termasuk handphone middle end atau bahkan highend. Fiturnya demikian lengkap, tapi hanya dipakai untuk bicara dan sms… Tipikal orang Indonesia. Maunya kelihatan canggih tetapi malah mubadzir..
Karena itu tidak mengherankan bila mayoritas pemilik sarana apotek (PSA) menganggap apoteker lebih sebagai liability bukan aset. Yang ada di benak mereka adalah bagaimana menerapkan cost reduction dengan metoda mencari tenaga kerja yang mau dibayar murah. Malang nian nasib apoteker kalau mau diperlakukan seperti ini.
Pola pikir cost reduction harus dilawan dengan pola pikir value creation. Apoteker memiliki bekal yang sangat memadai untuk menciptakan nilai. Melalui penerapan no pharmacist no service terbuka kesempatan bagi apoteker untuk menciptakan nilai.
Apoteker yang pasif dan menyerahkan pengelolaan apoteknya kepada PSA yang cenderung berkonsep cost reduction sama saja dengan membiarkan sawah ladangnya digarap orang lain yang tidak kompeten.
Program no pharmacist no service adalah wujud nyata dari perubahan orientasi praktek apoteker. Perubahan ini sedikitnya memiliki 2 dimensi yang sangat menguntungkan bagi apoteker karena asuhan kefarmasian menjadi kewenangan ekslusif apoteker dan sekaligus merupakan wahana untuk menciptakan strategi samudra biru.
Jadi, kembali kepada judul tulisan diatas, kita bisa menciptakan situasi seperti itu bila kita mampu menciptakan kondisi permintaan yang melebihi pasokan.
Apakah hal ini mungkin diraih ? Sangat mungkin, bila ada kesadaran dalam diri kita untuk mendayagunakan kapasitas kita lebih optimal serta kita rajin merawat dan mengembangkan kompetensi.
Yang jelas, perkara ini bukanlah masalah bisa atau tidak bisa tapi lebih kepada mau atau tidak mau..
Possibly Related Posts:
- Selamat Tinggal ISFI…
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Perubahan Itu Keniscayaan
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
- Sudah Saatnya “Values” Sebagai Strategi Bersaing Apotek(er)
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Leave a comment