Bersyukur sekali saya berkesempatan memenuhi undangan Indian Pharmaceutical Association (IPA) untuk menghadari hajatan tahunan mereka pada tanggal 14 – 15 Maret kemarin. Meski tidak bisa hadir penuh namun banyak inspirasi saya dapatkan. Tema yang mereka usung dalam konggres tersebut adalah Reengineering Pharmacy Profession in India.
Diawal ceramahnya, keynote speaker dalam acara tersebut, Dr Kamal Midha, President FIP, menguraikan tentang visi FIP 2020 yaitu wherever and whenever decision makers discuss any aspects of medicines on a global level, FIP is at the table. Luar biasa menantang bukan ? Dengan begitu, berarti para apoteker yang tergabung dalam FIP berkepentingan untuk terlibat terhadap apapun dan dimanapun para pengambil keputusan membicarakan tentang obat.
Selanjutnya dikatakan bahwa visi tersebut akan diwujudkan melalui misinya yaitu improve global health by advancing pharmacy practice and science to enable better discovery, development, access to and safe use of appropriate, cost-effective, quality medicines worldwide. Wow.. berarti para apoteker mesti berupaya keras untuk meningkatkan kesehatan global dengan memutakhirkan praktek dan ilmu kefarmasiannya.
Sedangkan sebagai strategic objective nya FIP menetapkan 3 hal yaitu advance pharmacy practice in all setting, advance the pharmaceutical science and increase FIP’s role in reforming pharmacy and pharmaceutical education.
Dengan acuan tersebut diharapkan tiap tiap negara anggauta FIP, termasuk Indonesia tentunya, menjabarkannya dalam langkah-langkah kongkrit guna mendukung terwujudnya visi FIP 2020.
Para apoteker India mengambil insiatif lebih cepat dengan mencanangkan program rekayasa ulang profesi apoteker agar singkron dengan visi FIP. Apa dan bagaimana bentuk rekayasa ulangnya saya tidak tahu karena hasilnya baru akan dirumuskan oleh tim perumus.
Kondisi geografis maupun demografis India tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Begitu pula dengan praktek kefarmasiannya. Tapi jangan ditanya kualitas para apotekernya. Yang sempat saya dengar, para apoteker India memberikan kontribusi sebesar 30% dalam proses penemuan obat baru perusahaan-perusahaan farmasi berbasis riset.
Jadi, kalau apoteker India saja merasa perlu merekayasa ulang profesi mereka apalagi kita.
Bukan begitu sejawat ?
Possibly Related Posts:
- Harga Obat Sebaiknya Dikendalikan
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Saya mahasiswa Pharmacy yg mau memasuki profesi apoteker. Banyak kabar saya dengar bahwa prospek kerja apoteker menyedihkan. Saya mendengar gaji seorang apoteker yang bekerja diapotek-apotek kota Tegal kisarannya Rp 600 – Rp 1 jt !! Aduh mak, mau hidup di bawah pohon? Di Semarang kisarannya Rp 1 juta – Rp 1,5 jt !! Di Jakarta, di sebuah apotek yang cukup terkemuka, gaji berkisar Rp 1,5 jt – Rp 2 jt !! Itupun dibatasi peraturan perundang-undangan hanya boleh di sebuah apotek saja. Kembang kempis gue !
Saya usul agar ISFI atau apalah namanya berjuang keras untuk meningkatkan daya tawar sarjana farmasi atau apoteker. Sekolah susah, biaya sangat mahal tetapi kerja di apotek gaji sangat rendah! Sama sekali tidak imbang! Ingat konteks percakapan saya, kerja di Apotek!
Papa saya bilang, kalau tahu prospek apoteker jauh sekali di bawah seorang dokter, ngapain jadi apoteker? Sekolah terpaut setahun, biaya nggak terpaut banyak, mendingan berprofesi sebagai dokter!
Adik-2 yang bakalan lulus SMA, tolong pikir baik-baik ya kalau mau masuk farmacy, S 1 nya mahal, ambil profesi apoteker sangat mahal, dan prospek kerja di Apotek gaji sangat rendah!
Saya ngga bangga ntar kalau lulus apoteker, kecuali ISFI meningkatkan gengsi dan daya tawar serta daya jual apoteker! Mo main musik aja hee..he..