Tulisan saya tentang Apotek Tanpa Resep yang termuat di portal ini 9 bulan yang lalu rupanya masih menarik dibaca. Dua komentator terakhir, sejawat Dodi (mungkin beliau seorang dokter, bukan apoteker) dan sejawat Ferdi (yang ini jelas apoteker) bersilang pendapat cukup tajam. Karena saya melihat silang pendapat ini berpotensi menghasilkan solusi terbaik bagi sistem kesehatan di negara kita, sengaja saya tidak berkomentar pada tulisan tersebut agar tidak merusak dinamika yang ada.

Apotek tanpa resep adalah sebuah fakta. Fenomena ini terjadi karena tuntutan untuk mempertahankan kelangsungan hidup apotek akibat ketatnya persaingan baik dengan sesama apotek, dengan toko obat maupun dengan dokter dispensing. Persaingan ini tidaklah fair karena tidak dalam lapangan permainan yang seimbang. Apotek memiliki koridor aturan yang sangat ketat sementara yang lain tidak.

Toko obat secara resmi tidak boleh menyediakan obat daftar G, tapi prakteknya banyak dilanggar. Dokter tidak boleh menyerahkan obat langsung kepada pasien bila disekitarnya sudah terdapat apotek, tapi prakteknya tidak sepenuhnya demikian. Banyak dokter dispensing meski berpraktek tidak jauh dari apotek. Dari sisi perpajakan mereka bisa terbebas dari kewajiban memungut dan menyetor PPh Badan maupun Perorangan dan PPn.

Ibarat bermain sepak bola, apotek adalah pemain resmi yang terdaftar sehingga permainannya diawasi dengan seksama oleh wasit, sementara yang lain adalah pemain tidak resmi yang bebas berkeliaran di lapangan. Apotek, karena terikat aturan harus berlari mengejar bola kesana kemari sementara yang lain cukup berdiri didepan gawang dan merebut bola yang datang untuk kemudian dimasukkan ke gawang.

Karena memang bukan pemain resmi, mereka ’seolah’ dianggap tidak bersalah meski banyak aturan dilanggar. Jadi jelas saja bila banyak apotek terengah-engah sementara yang lain masih segar bugar dan tidak jarang malah tambah segar berkat dukungan ‘multivitamin’ dari pabrik obat.

Dengan kondisi seperti itu muncullah fenomena apotek tanpa resep. Mereka berupaya mendapatkan penjualan tanpa harus sangat tergantung pada resep dokter. Obat yang dijual tidak hanya golongan OTC, Obat Wajib Apotek (OWA) tetapi juga obat ethical yang lain. Motivasinya satu, bagaimana meningkatkan penjualan agar biaya operasionalnya tertutup.

Silang pendapat yang ada dalam tulisan Apotek Tanpa Resep berasal dari 2 kubu yang berbeda. Dokter menganggap bahwa bila mereka diperbolehkan dispensing maka akan lebih banyak manfaatnya bagi pasien, sementara apoteker berpendapat justru sebaliknya. Saya tidak dalam posisi menjadi penengah bagi kedua kubu tersebut. Tapi saya melihat bahwa kalau dokter dispensing dilegalkan dan apotek tanpa resep makin bertambah subur bagaimana nasib bangsa kita ? Apakah kerasionalan penggunaan obat bisa ditegakkan ? Apakah secara makro biaya pengobatan tidak semakin mahal ?

Semoga calon anggota legislatif hasil pemilu kemarin membaca tulisan ini. Dan semoga pula ada diantara pembaca portal ini yang nantinya terpilih jadi Menteri Kesehatan. Kepada mereka saya berharap besar agar carut marutnya dunia perapotekan bisa dibenahi agar rakyat mendapatkan manfaat yang optimal.

Amin.

Possibly Related Posts: