Upaya Pertamina untuk melakukan standarisasi SPBU pengecer produknya patut diacungi jempol. Perubahan paling kentara adalah adanya label “Pasti Pas” pada SPBU yang sudah terstandarisasi. Sejak adanya slogan tersebut, saya juga menemukan atmosfer lain, karena situasi dan suasana SPBU berlabel “Pasti Pas” jauh lebih bersih dan terang.

Itulah salah satu proses transformasi dalam tubuh Pertamina yang bisa kita, sebagai konsumen, rasakan. Sekarang saya merasa lebih nyaman karena bisa mengisi bensin tanpa harus turun dari mobil. Saya percaya penuh bahwa petugas SPBU tidak akan menipu saya dengan mengurangi takarannya. 

Coba bandingkan pelayanan antara SPBU Pertamina yang berlabel “Pasti Pas” dan yang belum. Nyata benar bedanya. Di SPBU “Pasti Pas” ada serangkaian prosedur standar yang selalu mereka lakukan saat kita akan mengisi BBM. Contohnya, ingat kata-kata “mulai dari nol ya Pak/Bu..?” Itulah kalimat kunci yang sangat mengena yang mampu membangun kepercayaan konsumen.

Mengacu pada hal tersebut saya jadi ingat dengan tempat pengabdian profesi kita, apotek. Meski tidak bisa disamakan, namun ijinkan saya melakukan benchmarking. Kondisi apotek di negara kita saat ini hampir tidak berbeda dengan kondisi SPBU Pertamina sebelum dilakukan standarisasi. Variabilitasnya sangat lebar, baik dari sisi sarana maupun pelayanan.

Sebagai konsumen seringkali saya memiliki rasa “tidak percaya” bila harus membeli obat pada apotek yang secara visual tidak menarik. Begitu pula pada apotek yang kualitas pelayanannya seadanya. Oleh karena faktor tersebut saya memiliki preferensi kepada apotek tertentu bila membutuhukan obat. Bila sangat terpaksa, misalnya saat diluar kota atau jauh dari apotek tersebut, saya akan mencari apotek jaringan terdekat bila membutuhkan obat. Alasannya, saya percaya bila di apotek jaringan kualitas produk maupun pelayanannya bisa diharapkan.

Saya tidak bermaksud menyamaratakan. Tapi barangkali pendapat saya sebagai konsumen tidak terlalu keliru ya? Apakah sejawat yang tidak praktek di apotek memiliki pandangan yang sama dengan saya? Begitu pula apakah konsumen atau pasien secara umum juga demikian?

Dalam tulisan yang berjudul Akreditasi Apotek saya menguraikan tentang pentingnya apotek di akreditasi sehubungan dengan diwajibkannya apotek menerapkan Good Pharmacy Practise (GPP). Akreditasi ini penting baik bagi apotek itu sendiri maupun bagi konsumen atau pasien. Bagi apotek, bila sudah dinyatakan terakreditasi berarti apotek tersebut dikelola dengan standar GPP oleh apoteker yang berlisensi. Masyarakat akan mendapat jaminan produk maupun pelayanan bila membeli obat di apotek yang terakreditasi.

Bila program akreditasi dapat berjalan dengan sukses maka apotek akan bermain pada “lapangan bermain” yang sama dengan aturan dan sangsi yang seragam. Tidak seperti sekarang, yang terkesan seolah olah ada apotek yang bermain di “lapangan bulutangkis”, ada yang di lapangan “sepakbola” dan ada yang di “lapangan voli”. Keragaman lapangan permainan tersebut membawa konsekuensi tidak adanya keseragaman pelayanan. Sehingga wajar bila kemudian ada yang membandingkan apotek dengan toko obat atau dokter dispensing.

Memang perlu tekad yang kuat dan kemauan besar bila kita ingin bertransformasi. Saya sendiri yakin tidak semua sejawat sefaham dengan pemikiran saya ini. Tapi inilah era web 2.0. Saya mencoba melontarkan pendapat. Silahkan sejawat berkomentar. Baik setuju atau tidak.

Possibly Related Posts: