<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Apotek &#8220;Pasti Pas&#8221;</title>
	<atom:link href="http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/</link>
	<description>media berbagi informasi untuk mengembangkan kompetensi</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Nov 2011 00:39:44 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: agus</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/comment-page-1/#comment-24954</link>
		<dc:creator>agus</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 00:39:44 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=681#comment-24954</guid>
		<description>Saya sangat setuju dengan usulan bpk Nanang untuk tidak ikut ikutan pertamina menggunakan istilah &quot;pasti pas&quot; karena itu adalah semacam istilah yg muncul untuk membodohi konsumen, bagaimana tidak ? karena sejatinya dalam melayani konsumen harus sudah melaksanakan semua standard yang ada di&quot;pasti pas&quot; padahal untuk melaksanakan program itu ada biaya ekstra dan siapa yang menanggung biaya itu ? tentu saja konsumen! nah jadinya konsumen harus mengeluarkan ekstra rupiah untuk pelayanan yang harusnya sudah menjadi kewajiban pertamina untuk melayani konsumen dengan sebaik baiknya. Apotek demikian juga halnya jangan terjebak pada suatu istilah yang nantinya akan mengalihkan &quot;standard pelayanan&quot; menjadi &quot;standard pelayanan ekstra&quot; dengan tambahan ekstra rupiah juga !</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya sangat setuju dengan usulan bpk Nanang untuk tidak ikut ikutan pertamina menggunakan istilah &#8220;pasti pas&#8221; karena itu adalah semacam istilah yg muncul untuk membodohi konsumen, bagaimana tidak ? karena sejatinya dalam melayani konsumen harus sudah melaksanakan semua standard yang ada di&#8221;pasti pas&#8221; padahal untuk melaksanakan program itu ada biaya ekstra dan siapa yang menanggung biaya itu ? tentu saja konsumen! nah jadinya konsumen harus mengeluarkan ekstra rupiah untuk pelayanan yang harusnya sudah menjadi kewajiban pertamina untuk melayani konsumen dengan sebaik baiknya. Apotek demikian juga halnya jangan terjebak pada suatu istilah yang nantinya akan mengalihkan &#8220;standard pelayanan&#8221; menjadi &#8220;standard pelayanan ekstra&#8221; dengan tambahan ekstra rupiah juga !</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Isnan</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/comment-page-1/#comment-419</link>
		<dc:creator>Isnan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Dec 2009 01:38:53 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=681#comment-419</guid>
		<description>Lah, menghadapi ketatnya persaingan, seharusnya pemilik apotek jangan memakain kekuatan sendiri untuk memecahkannya. nanti pusing sendiri. jika bersatu (menghadapi common enemy) pasti tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Misalnya dalam menghadapi persaingan dengan apotek jaringan. Apa yang menjadi kelebihan mereka, apa kelemahan mereka, apa kelemahan kita apa yang harus kita bangun untuk membangun citra dibenak costumer dll, kalau dipikirkan bareng pasti jos.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lah, menghadapi ketatnya persaingan, seharusnya pemilik apotek jangan memakain kekuatan sendiri untuk memecahkannya. nanti pusing sendiri. jika bersatu (menghadapi common enemy) pasti tingkat keberhasilannya lebih tinggi. Misalnya dalam menghadapi persaingan dengan apotek jaringan. Apa yang menjadi kelebihan mereka, apa kelemahan mereka, apa kelemahan kita apa yang harus kita bangun untuk membangun citra dibenak costumer dll, kalau dipikirkan bareng pasti jos.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: alimashuda</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/comment-page-1/#comment-361</link>
		<dc:creator>alimashuda</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 12 Jul 2009 16:48:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=681#comment-361</guid>
		<description>Harga Apoteker terletak pada seberapa besar dia menghargai Profesi dirinya.  Apoteker APA jangan keluar dari lingkaran profesi menuju ke pragmatisme gaji, dagang obat dan kerjasama kolutif. Kalau ISFI bisa merombak Mekanisme Pelayanan Obat Keras/Resep yang Profesional, Tataruang Apotek dan para Anggota bersedia melaksanakan scara konsisten tanpa &#039;seribu alasan yang dibuat&#039; saya yakin Kesejahteraan APA akan sangat LUAR BIASA.
Sangat sulit ? Sebenarnya tidak. Hanya, saya meragukan : Apa benar Apoteker APA memiliki bakat untuk menjadi KAYA dan SANGAT KAYA ???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Harga Apoteker terletak pada seberapa besar dia menghargai Profesi dirinya.  Apoteker APA jangan keluar dari lingkaran profesi menuju ke pragmatisme gaji, dagang obat dan kerjasama kolutif. Kalau ISFI bisa merombak Mekanisme Pelayanan Obat Keras/Resep yang Profesional, Tataruang Apotek dan para Anggota bersedia melaksanakan scara konsisten tanpa &#8217;seribu alasan yang dibuat&#8217; saya yakin Kesejahteraan APA akan sangat LUAR BIASA.<br />
Sangat sulit ? Sebenarnya tidak. Hanya, saya meragukan : Apa benar Apoteker APA memiliki bakat untuk menjadi KAYA dan SANGAT KAYA ???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nanang</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/comment-page-1/#comment-360</link>
		<dc:creator>Nanang</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 08:55:19 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=681#comment-360</guid>
		<description>Ide anda sangat bagus. Menarik dan menantang. Tetapi sayangnya sangat sukar dilaksanakan saat ini maupun dalam kurun 10 (sepuluh) tahun ke depan.

Pesimiskah saya ? Tidak juga, hanya realistis. Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam mewujudkan ide &quot;Apotek Pas&quot; (kalau bisa cari istilah lain saja, tidak usah ikut-ikutan Pertamina), mulai dari pihak eksekutif di pemerintahan, badan legislatif, institusi pendidikan, sejawat kesehatan lain, organisasi profesi dan kesiapan masyarakat farmasi sendiri. Pelik betul, Pak !

Kalau ingin meniru Pertamina dalam mengelola SPBU, boleh-boleh saja, tetapi Apotek-Apotek di Indonesia dijadikan BUMN dulu, agar sama status badan hukumnya. Nah, kalau sudah jadi BUMN, maka semua dapat distandarisasikan dengan mudah (pelayanan standar, kinerja perusahaan standar, jam kerja standar, dan jangan lupa : gaji Apotekernya juga standar).

Saat ini, menemukan Apoteker yang &quot;Pas&quot; saja masih langka,  karena kebutuhan primer si Apoteker untuk menjadi manusia sejahtera saja masih sulit. Kalau mau dipaksakan bisa juga, sih.  Akan banyak korban, tentunya. Dan, siapa suruh jadi Apoteker Apotek ? Profesi yang mengambang, rapuh dan mudah diperdayai oleh orang lain (banyak yang bekerja sebagai &quot;buruh&quot; Apotek dengan gaji memalukan).  Kekecualian kondisi bagi Apoteker yang bekerja di luar sektor  perapotekan.

Saya setuju dengan pendapat sejawat lain yang mengatakan bahwa &quot;Apotek Pas&quot; akan lebih mudah- ulangi: lebih mudah-dilaksanakan apabila izin pendirian Apotek hanya diberikan kepada Apoteker yang bertindak sebagai APA dan PSA sekaligus. Mudah-mudahan ISFI sudi dan mampu memikirkan sekaligus memperjuangkan kesejahteraan para anggotanya yang bekerja di sektor perapotekan. (Nggak janji, deh....)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ide anda sangat bagus. Menarik dan menantang. Tetapi sayangnya sangat sukar dilaksanakan saat ini maupun dalam kurun 10 (sepuluh) tahun ke depan.</p>
<p>Pesimiskah saya ? Tidak juga, hanya realistis. Banyak pihak yang harus dilibatkan dalam mewujudkan ide &#8220;Apotek Pas&#8221; (kalau bisa cari istilah lain saja, tidak usah ikut-ikutan Pertamina), mulai dari pihak eksekutif di pemerintahan, badan legislatif, institusi pendidikan, sejawat kesehatan lain, organisasi profesi dan kesiapan masyarakat farmasi sendiri. Pelik betul, Pak !</p>
<p>Kalau ingin meniru Pertamina dalam mengelola SPBU, boleh-boleh saja, tetapi Apotek-Apotek di Indonesia dijadikan BUMN dulu, agar sama status badan hukumnya. Nah, kalau sudah jadi BUMN, maka semua dapat distandarisasikan dengan mudah (pelayanan standar, kinerja perusahaan standar, jam kerja standar, dan jangan lupa : gaji Apotekernya juga standar).</p>
<p>Saat ini, menemukan Apoteker yang &#8220;Pas&#8221; saja masih langka,  karena kebutuhan primer si Apoteker untuk menjadi manusia sejahtera saja masih sulit. Kalau mau dipaksakan bisa juga, sih.  Akan banyak korban, tentunya. Dan, siapa suruh jadi Apoteker Apotek ? Profesi yang mengambang, rapuh dan mudah diperdayai oleh orang lain (banyak yang bekerja sebagai &#8220;buruh&#8221; Apotek dengan gaji memalukan).  Kekecualian kondisi bagi Apoteker yang bekerja di luar sektor  perapotekan.</p>
<p>Saya setuju dengan pendapat sejawat lain yang mengatakan bahwa &#8220;Apotek Pas&#8221; akan lebih mudah- ulangi: lebih mudah-dilaksanakan apabila izin pendirian Apotek hanya diberikan kepada Apoteker yang bertindak sebagai APA dan PSA sekaligus. Mudah-mudahan ISFI sudi dan mampu memikirkan sekaligus memperjuangkan kesejahteraan para anggotanya yang bekerja di sektor perapotekan. (Nggak janji, deh&#8230;.)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dadan97</title>
		<link>http://apotekkita.com/2009/04/23/apotek-pasti-pas/comment-page-1/#comment-359</link>
		<dc:creator>dadan97</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 11:22:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.apotekkita.com/?p=681#comment-359</guid>
		<description>saya sependapat dengan adanya standarisasi pelayanan di apotek, selama yang menikmatinya tetep masyarakat. hanya jangan sampai ketika pelayanan sudah distandarisasi, berimbas ke harga obat yang memberatkan masyarakat. berbeda dengan SPBU, yang harganya sudah ditentukan dari sononya.beli dimanapun pasti sama harganya. apa apotek bisa seperti itu? pelayanan standar tanpa mempengaruhi harga?

saya berpendapat seperti ini karena ada jaringan apotek yang pelayanannya bagus sekali, tp harganya sangat jauh dengan apotek konvensional yg &quot;tdk ada apoteker&quot; di tempat.

trims</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sependapat dengan adanya standarisasi pelayanan di apotek, selama yang menikmatinya tetep masyarakat. hanya jangan sampai ketika pelayanan sudah distandarisasi, berimbas ke harga obat yang memberatkan masyarakat. berbeda dengan SPBU, yang harganya sudah ditentukan dari sononya.beli dimanapun pasti sama harganya. apa apotek bisa seperti itu? pelayanan standar tanpa mempengaruhi harga?</p>
<p>saya berpendapat seperti ini karena ada jaringan apotek yang pelayanannya bagus sekali, tp harganya sangat jauh dengan apotek konvensional yg &#8220;tdk ada apoteker&#8221; di tempat.</p>
<p>trims</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

