Archive for May, 2009

Pharmaceutical Care, Who Cares ?

Terus terang kalimat yang menjadi judul tulisan ini saya dapatkan dari sejawat Fajar Rp. Semula saya menganggap bahwa kalimat tersebut hanyalah sebuah kalimat canda sehingga saya tidak terlalu menghayatinya. Tapi rupanya, dengan kuasa dan kehendak Allah, kemarin saya mengalaminya sendiri. Sehingga, hikmahnya, saya mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang pentingnya pharmaceutical care.

Begini ceritanya. Selama 3 hari berturut-turut anak saya yang terkecil, 4 tahun, suhu badannya naik turun meski sudah saya beri antipiretik. Hari ke empat saya membawa anak saya ke dokter anak yang berpraktek di rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan seksama, termasuk dengan pemeriksaan darah, anak saya di diagnosa terkena demam berdarah atau thypus. Singkat cerita, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, anak saya diputuskan untuk dirawat inap.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Apotek, Industri Kreatifkah ?

Di harian Kompas pagi ini saya menemukan artikel menarik yang berjudul Tidak Ada Krisis Bagi yang Kreatif. Menurut artikel tersebut krisis ekonomi yang melanda dunia akan bisa dihadapai bila kita memiliki kreatifitas yang tinggi. Di bagian lain dimuat pula berita tentang upaya memberdayakan konsumen untuk menekan penggunaan obat tidak rasional (silahkan baca disini). Dari sudut pandang kita, apoteker, apakah keduanya memiliki benang merah yang menghubungkannya ?

Apotek secara formal adalah tempat pengabdian profesi apoteker. Tapi kita tidak bisa menafikan bahwa apotek juga sebuah institusi bisnis ritel. Keduanya memang cenderung bertolak belakang. Sebagai tempat pengabdian profesi unsur pelayanan adalah indikator utama kinerjanya. Sementara sebagai bisnis ritel, perputaran persediaan lebih diprioritaskan agar roda bisnis bisa berputar.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Praktek Bersama (Apoteker & Dokter)

Diskusi tentang fenomena apotek tanpa resep dan dokter dispensing mengerucut pada usulan dan pertanyaan dari sejawat Dr Budiarto sebagai berikut  “ Yth. Apoteker, untuk menyelesaikan masalah ini, saya mengusulkan : jika seorang dokter (dispensing) melakukan praktek, mempunyai pasien lebih dari 30 perhari, harus mempunyai seorang apoteker, ..bagaimana pendapat bapak ? “. Usulan tersebut diajukan melalui tulisan Kegiatan Dokter Dispensing Sejatinya Sama Dengan Apotek dan Apotek Tanpa Resep Jilid 2.  

Menurut pendapat saya, usulan tersebut merupakan sebuah bentuk legalisasi atas praktek dokter dispensing di daerah yang terjangkau oleh apotek. Tapi dilain pihak bisa juga sebaliknya, yaitu legalisasi apotek tanpa resep. Apotek tertentu yang secara ekonomis telah sehat bisa saja menyediakan layanan dokter (cuma-cuma) untuk meresepkan obat yang dibutuhkan konsumen yang datang ke apotek untuk membeli obat daftar G.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Apotek Tanpa Obat

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putra

 

Selama ini apotek memang lebih banyak dipersepsikan semata sebagai tempat transaksi obat, tidak lebih. Padahal apotek juga dapat (dan seharusnya memang) menyediakan layanan konsultasi kefarmasian, mengkampanyekan pengetahuan tentang obat, menjalankan fungsi promosi kesehatan, bahkan leluasa memberikan alternatif obat jika pasien keberatan dengan harga obat yang diresepkan. 

Saking salah kaprahnya, dapat dikatakan bahwa apotek di Indonesia kalah pamor dari toko obat. Bahkan secara ekstrim apotek nyaris tidak bisa dibedakan dengan toko obat – selain dari persoalan harga – karena penyaluran obat keras yang hanya boleh didapatkan di apotek pun kerap terjadi di toko obat.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts: