Di harian Kompas pagi ini saya menemukan artikel menarik yang berjudul Tidak Ada Krisis Bagi yang Kreatif. Menurut artikel tersebut krisis ekonomi yang melanda dunia akan bisa dihadapai bila kita memiliki kreatifitas yang tinggi. Di bagian lain dimuat pula berita tentang upaya memberdayakan konsumen untuk menekan penggunaan obat tidak rasional (silahkan baca disini). Dari sudut pandang kita, apoteker, apakah keduanya memiliki benang merah yang menghubungkannya ?
Apotek secara formal adalah tempat pengabdian profesi apoteker. Tapi kita tidak bisa menafikan bahwa apotek juga sebuah institusi bisnis ritel. Keduanya memang cenderung bertolak belakang. Sebagai tempat pengabdian profesi unsur pelayanan adalah indikator utama kinerjanya. Sementara sebagai bisnis ritel, perputaran persediaan lebih diprioritaskan agar roda bisnis bisa berputar.
Ketidakseimbangan mengelola kedua unsur tersebut akan menyebabkan ketimpangan. Terlalu fokus pada pelayanan tapi tidak diimbangi pemasukan yang memadai akan mengakibatkan kondisi besar pasak daripada tiang. Bila kondisi sebaliknya yang terjadi maka apotek tidak lebih dari tempat jual beli obat yang sangat mungkin berkontribusi pada penggunaan obat tidak rasional.
Menurut pengamatan saya, upaya menyeimbangkan unsur pelayanan dan bisnis ritel gencar dilakukan oleh para pemilik apotek jaringan. Mereka merubah tataletak apotek sehingga memungkinkan konsumen untuk melayani dirinya sendiri (swalayan). Mereka juga tidak lupa menyediakan 3 – 4 orang pramuniaga yang bertugas untuk membantu konsumen. Hanya saja, apakah upaya menekan penggunaan obat tidak rasional bisa optimal dijalankan bila omzet juga menjadi salah satu ukuran kinerja ?
Nah, kembali kepada benang merah diatas saya menengarai bahwa sejatinya apoteker sebagai pelindung konsumen obat, dengan kompetensi yang dimilikinya, memiliki kemampuan untuk mengubah apotek menjadi sebuah “industri” kreatif.
Penggunaan obat secara tidak rasional sudah demikian marak terjadi di negeri ini. Disadari atau tidak itulah ladang potensial bagi apoteker untuk berkreasi. Melalui sarana pharmaceutical care, apoteker dapat memberikan empati kepada konsumen sekaligus memberdayakan mereka agar lebih melek terhadap masalah obat dan pengobatan. Bila hal ini dijalankan secara efektif maka akan tercipta kondisi saling tergantung antara konsumen dan apoteker.
Investasi terbesar yang diperlukan adalah waktu. Apoteker harus memberikan pelayanan kepada setiap konsumen yang datang ke apoteknya. Pada awalnya apotekerlah yang harus proaktif. Konsumen dilayani layaknya seorang nasabah prioritas bagi sebuah bank.
Apakah mudah menjalankan hal tersebut ? Tentu saja tidak. Selain kompetensi teknis, dibutuhkan pula sense of service yang tinggi agar bisa efektif. Siapkah kita mewujudkannya ? Semua tergantung kita. Dan ingat, tidak semua apoteker cocok berpraktek di apotek.
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Apotek adalah bisnis yang kreatif, bahkan sangat kreatif, bahkan siapa sangka apotek berkembang pesat saat ini setelah beberapa saat stagnan, franchise bertaburan dimana2 dan menghasilkan omset ratusan juta bahkan milrayan bahkan apotek BUMN (kimia Farma) juga berkembang pesat, dan apotek2 sendiri juga banyak, jadi bisnis apotek sangat berkembang dan kreatif..
Bahkan ada apotek + Praktek Dokter + Lab Klinik + tempat makan ++, sungguh apotek adalah bisnis yang dapat dikembangkan sedemikian agar lebih menarik dan menguntungkan..
Tetapi ada satu hal yang saya tidak habis pikir, bagaimana Apoteker sendiri tidak begitu berminat di ‘bisnis’ ini, ada beberapa hal yang sangat positif jika seorang apoteker yang melaksanakan langsung :
1. Citra apoteker akan semakin menonjol
2. Pharmaceutical Care dapat dilakukan, sehingga ketidak rasionalan penggunaan obat dapat dihindari
3. Bisnis apotek dapat dilakukan oleh ahlinya, sehingga apoteker benar2 adalah tempat praktek apoteker (TATAP), sebagaimana halnya Praktek Dokter
4. Ilmu yang didapat akan semakin bertambah dari pola penulisan resep dokter, jenis2 obat, indikasi dll
5. Profit yang didapat akan berlipat2 jika Apoteker sendiri yang mengelolanya (saya tidak bisa memaparkan disini apa saja) pengalaman saya bisa mendapatkan keuntungan bersih 20 – 25 juta/ bulan diluar biaya operasional (+/- 6-8 jt) perbulan, dari apotek saya sudah bisa membeli mobil, membangun rumah dll,…(tanpa praktek dokter)
Semoga teman2 apoteker lebih giat dan mau berbisnis dibidang apotek, masak kalah sama dokter (pemilik franchise 24 jam adalah dokter)
Tidak harus modal besar, modal kecil juga oke, ada trik2 khusus…apalagi apoteker yang mengelola, biaya operasional bisa dikelola..
Tolong bagi dong pak trik2nya
karena saya jg malas kerja sama
dengan dokter.
makasih