Sejawat sekalian, hampir genap 2 bulan saya tidak memperbaharui isi portal ini dengan tulisan saya sendiri, Tiga tulisan terakhir saya ambilkan dari sumber lain, dua diantaranya kiriman sejawat Fajar yang cukup produktif dalam menulis. Memang seperti yang pernah saya katakan, untuk mengelola blog dibutuhkan stamina yang kuat seperti halnya berlari marathon. Kita harus mampu menjaganya agar tidak kehabisan nafas ditengah jalan.

Karena blog ini saya beri nama PORTAL APOTEKER maka saya harus konsisten mengisi kontennya sesuai dengan namanya dan juga misisnya. Saya tidak boleh sembarang menulis. Sebenarnya dunia perapotekeran sangat luas untuk dijadikan bahan tulisan. Belum lagi masih tingginya deviasi antara harapan dan kenyataan tentang praktek apoteker di Indonesia. Semua itu adalah sumber yang tak pernah kering untuk menjadi bahan tulisan. Lalu mengapa saya absen menulis selama ini ?

Itulah yang sulit untuk dijawab. Kadang-kadang begitu banyak inspirasi muncul di kepala, tapi tidak mampu dituangkan dalam tulisan. Kalaupun sudah sempat ditulis tidak mampu diselesaikan. Saya punya banyak keterbatasan dalam hal ini. Barangkali karena terkait langsung dengan idealisme yang saya miliki.

Nah terkait dengan hal tersebut ijinkanlah saya bercerita tentang pengalaman saya beberapa bulan yang lalu. Alkisah  sekitar bulan Maret 2009 saya bermaksud untuk bekerjasama dengan salah satu jaringan apotek untuk mendirikan apotek didekat tempat tinggal saya. Studi kelayakan sudah dibuat. Lokasi sudah disewa. Perijinan hampir diurus.

Saya urung mendirikan apotek karena setelah saya pertimbangkan dengan seksama saya merasa belum bisa secara konsekuen menjalankan no pharmacist no service. Meski masih bisa “diakali”, tapi saya tidak mau munafik sehingga saya mundur dari rencana tersebut. Tapi proses pendirian apotek tersebut terus berlanjut  bekerjasama dengan apoteker lain.

Saya berpendapat bahwa apoteker di apotek adalah mengabdikan profesinya atau dengan kata lain mempraktekkan kompetensinya. Kedatangan mereka di apotek bukan semata menandatangani dokumen yang harus ditandatangani oleh apoteker atau urusan lain yang terkait dengan pengelolaan apotek, tetapi lebih spesifik lagi adalah menjalankan pekerjaan kefarmasian. Dengan demikian maka mereka datang ke apotek bukanlah untuk bekerja tetapi berpraktek.

Terminologi bekerja dan berpraktek jelas sangat jauh perbedaannya. Maka dari itu bila apoteker datang ke apotek hanya sekali-sekali dan sekali datang hanya menandatangani dokumen maka yang bersangkutan hakekatnya adalah bekerja. Apoteker yang berpraktek akan melaksanakan pekerjaan kefarmasian secara langsung atau mensuperivisinya bila didelegasikan kepada yang berwenang. Keduanya menuntut keberadaan fisik apoteker di apotek.

Jadi, kembali ke pertanyaaan yang menjadi judul tulisan ini, apoteker di apotek sebenarnya bekerja atau berpraktek ?

Possibly Related Posts: