Di area bisnis yang berada disebuah kompleks perumahan di Bekasi terdapat 2 buah apotek jaringan yang buka 24 Jam. Jarak antar keduanya tidak lebih dari 200 meter. Di area tersebut ada juga 2 buah apotek jaringan lain yang buka dari jam 08.00 – 24.00 dan lebih dari 4 apotek independen yang buka dari 08.00 – 21.00.
Memang di area tersebut lalu lintasnya cukup ramai dan penduduknya juga padat. Dari sudut pandang bisnis pasti daerah tersebut memang “basah” sehingga tidak heran bila populasi apoteknya demikian banyak. Sekedar menambah ilustrasi, didalam area bisnis tersebut ada juga 4 gerai minimarket jaringan dari 2 “brand” yang ternama. Salah satu diantaranya juga buka 24 jam.
Masih didalam area tersebut, karena banyak terdapat tempat makan, maka layak juga menyandang predikat sebagai tempat wisata kuliner. Pendek kata, meski berada di pinggiran Jakarta, tetapi suasananya, kalau nggak salah, sudah mendekati jargonnya Citibank, city that never sleep. Luar biasa ya..
Paradigma yang benar tentang apotek adalah tempat pengabdian bagi apoteker. Di apotek, konsumen atau pasien mencari solusi atas permasalahan dirinya yang berkaitan dengan obat. Apoteker berkewajiban memberikan asuhan kefarmasian kepada setiap konsumen yang membutuhkannya. Unsur pelayanan jelas sangat dominan disini, sehingga konsep no pharmacist no service sangat relevan karenanya.
Kalau konsekuen dengan paradigma tersebut, di apotek yang buka 24 jam minimal harus ada 3 apoteker yang berpraktek bergiliran. Mereka harus senantiasa berada di apotek sepanjang apotek buka. Tidak peduli hari kerja atau hari libur, pagi, siang, sore atau malam. Ada atau tidak ada pasien/konsumen.
Kalau begitu konsekuensinya, apakah para sejawat yang berpraktek di apotek yang buka 24 jam benar-benar berada di apotek meski hari libur dan malam hari ?
Saya jadi bertanya, sebegitu perlukah apotek buka 24 jam ? Apakah motivasinya benar-benar karena dilandasi jiwa melayani yang begitu tinggi sehingga tidak mau absen dalam semenitpun dalam sehari ? Ataukah karena apotek sudah diperlakukan sebagai mesin uang sehingga dieksploitasi semaksimal mungkin dengan mengabaikan unsur pelayanan kefarmasian ?
Apakah fenomena ini merupakan bentuk kongkrit dari proses industrialisasi yang terjadi di apotek ? Lalu sadarkah para sejawat yang berpraktek disana bahwa mereka telah menjadi subjek eksploitasi ? Sadarkah para sejawat akan konsekuensi hukum yang timbul bila terjadi malpraktek yang mungkin saja terjadi akibat over eksploitasi ?
Sekedar ingin tahu, adakah apoteker yang juga PSA yang membuka apoteknya 24 jam ? Apa pertimbangan utamanya ?
Possibly Related Posts:
- Harga Obat Sebaiknya Dikendalikan
- Selamat Tinggal ISFI…
- Segera Implementasikan PP 51/2009 Untuk Mencegah Tragedi Anti Filariasis Terulang!
- Siap Tidak Siap, Kita Harus Bisa !
- PP 51/2009, Let’s Do It
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
Apotek 24 jam, hanya membuat Apoteker sebagai sapi perahan, mereka membuat apotek sebagai kejar setoran..
Mereka (pemilik Apotek 24 jam) tidaklah ingin agar apoteker menjadi pintar..tetapi dibuat dalam tekanan, sehingga menjadi seperti mesin..
Saya kasihan lihat apoteker yang bekerja seperti itu, sebaiknya Apoteker menjadi tuan rumah di lahannya sendiri..
Sebenarnya buka apotek tidak serumit dan tidak semahal yang dibayangkan..
JIKA APOTEKER BERADA DITEMPAT (Langsung memegang kendali) saya yakin dengan modal kecil bisa menjalankan apotek dan UNTUNG..
Saya berdampingan dengan Apotek 24 jam (modal 630 juta), sementara saya sendiri hanya memulai modal dengan 15 juta (sekarang stok 100 jutaan)..tetapi bisa menyamai omsetnya, karena saya sendiri yang mengendalikan..Malah Apotek 24 jam yang mengaku Komplit sering tidak lengkap..
Tidak ada Apotek yang Komplit, BAYANGKAN SETIAP HARI ADA BANYAK OBAT YANG BARU karena banyaknya Pabrikan (dengan komposisi yg sama), Bagaimana mau melengkapi? Milyaranpun tak cukup untuk membuka apotek yang lengkap..
TETAPI dengan Kendali SEORANG APOTEKER, semua itu bisa dikendalikan..
Tidak harus semua disediakan, tetapi dengan KEBIJAKAN SEORANG APOTEKER, yang bisa meyakinkan pembeli, KECUALI MEMANG OBAT2 BARU SUDAH TIDAK TERGANTIKAN, DAN SUDAH MELEKAT, SEORANG APOTEKER harus bisa menambah stok..Bahkan memanfaatkan Apotek lain..
BUKA 24 Jam bukan SOLUSI, Saya pernah Coba buka 24 jam..hampir tidak significant terhadap omset, kecuali dekat RS Besar seperti RS Persahabatan dll..
Biasanya diatas jam 24.00 hanya membeli obat2 bebas, Kalaupun resep ada itu berasal dari RS (sebaiknya ditebus di Apotek RS ybs)
KEPADA PELANGGAN saya sarankan menghubungi No HP saya jika ada resep yang PENTING dan MENDESAK pada Malam hari..saya akan membantu dengan senang hati..
Itulah Fungsi seorang Apoteker..bukan Seperti APOTEK 24 jam, Apoteker sapiperahan..
Konsep “no pharmacist no service” sngat sulit diterapkn d daerah luar jawa. Trlalu bnyk faktor yg tdk bs diuraikan dsni.
Setuju dengan penulis : 1. Aptk 24 jm mmg hanya diperlukan bila berdekatan dng RS. 2. Bagaimanakah pemanfaatan TTK dlm hal ini, kok gak disebut-sebut ? 3. Sebaiknya izin Apotek utk selanjutnya hanya diberikan kpd Apoteker, dng segala konsekuensinya bagi Apoteker ybs, tapi jangan terjadi spt yg pernah terjadi ….. PP25 (th ?)sudah diedarkan trus krn pejabat diganti dimentahkan lagi. Marilah bersama IAI kita mengubah sikap menuju paradigma baru ….. pharmaceutical care …..asuan (ke)farmasi (an).