Bicara tentang standar pendapatan bagi apoteker yang berpraktek di apotek layaknya bicara mengenai kondisi ideal bangsa Indonesia, yakni masyarakat yang adil dan makmur. Meski negara kita sudah merdeka lebih dari setengah abad namun baru segelintir anggota masyarakat yang bisa merasakan kondisi adil dan makmur. Begitu juga dengan para apoteker di apotek. Mungkin mereka yang tergolong senior sudah merasakannya, tapi tidak demikian bagi para yunior.
Berbagai upaya telah dan terus dicoba untuk memformulasikan standar pendapatan apoteker di apotek, namun rupanya belum bisa menjawab tuntas beragam pertanyaan yang ada. Memang harus disadari bahwa kondisi apotek sangat beragam, sehingga secara langsung membawa konsekuensi beragam pula variabel yang melekat padanya. Saya tidak tahu kebenarannya, tapi saya pernah mendapat pesan melalui facebook katanya ada apoteker yang bersedia diberi honor jauh dibawah Upah Minimum Provinsi perbulan asalkan tidak perlu datang ke apotek alias tekab. Keterlaluan !
Sebenarnya berapa angka yang “pantas” diterima oleh apoteker yang berpraktek di apotek sebagai kompensasi atas pengabdiannya ? Faktor apa saja yang patut dipertimbangkan sebagai variabel untuk menghitungnya ? Apakah jumlahnya sudah sebanding dengan tanggungjawabnya ? Apakah perlu dibuat standar secara nasional ? Siapa yang harus menentukan ? Dan seterusnya, dan seterusnya… Pertanyaan-pertanyaan diatas barangkali mendesak untuk dijawab secara tuntas agar dapat memotivasi sekaligus membangkitkan gairah para sejawat di apotek.
Dalam tinjauan manajemen SDM dikenal istilah measuring job value yaitu sebuah konsep yang memberi informasi mengenai berapa harga yang paling tepat untuk sebuah jabatan. Proses untuk menelisik job value sering disebut sebagai job evaluation. Istilah ini merujuk pada sebuah ikhtiar untuk mengevaluasi segenap komponen yang melekat dalam suatu jabatan, dan kemudian menghitung berapa harga yang paling pantas untuk pekerjaan itu.
Apoteker di apotek memang bukan bekerja, tetapi berpraktek, sehingga kalau ada yang keberatan dengan istilah job value bisa difahami. Akan tetapi selagi kondisi belum memungkinkan bagi apoteker untuk memungut professional fee kepada konsumen, pendekatan mengukur nilai sebuah pekerjaan yang melekat pada jabatan bisa dipakai sebagai acuan memformulasikan standar pendapatan apoteker di apotek.
Dalam konteks tersebut minimal ada 4 faktor yang bisa digunakan sebagai kriteria baku untuk menghitung harga sebuah jabatan. Faktor yang pertama biasanya berkaitan dengan aspek kompetensi teknis yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah pekerjaan. Apoteker adalah sebuah profesi yang mensyaratkan kompetensi. Oleh karena itu kompetensi teknis apoteker harus dinilai dengan angka yang sepadan.
Faktor yang kedua adalah impact of decisions. Apakah dampak keputusan yang dihasilkan oleh jabatan ini bersifat signifikan dan lintas sektoral ataukah hanya sekedar punya pengaruh yang terbatas? Disini yang diuji adalah seberapa ekspansif dampak keputusan yang dihasilkan oleh sebuah jabatan. Keputusan yang diambil apoteker di apotek sejatinya sangat luas. Ambil contoh keputusan untuk melayani atau menolak resep, memberi atau tidak permintaan obat keras tanpa resep dokter dan sebagainya.
Faktor berikutnya job complexity. Aspek ini merujuk pada sejauh mana level kompleksitas yang dibutuhkan dalam mengelola suatu jabatan. Kompleksitas disini mengacu baik pada aspek teknis operasional ataupun dalam aspek konsep dan kedalaman analisa untuk menuntaskan sebuah pekerjaan. Kalau apoteker konsekuen menjalankan perannya sebagai pengelola tertinggi disebuah apotek maka tugas apoteker tidaklah sederhana.
Sedangkan faktor yang terakhir adalah responsibility of others. Disini yang diuji adalah rentang kendali dan tanggung jawab dari suatu jabatan. Apakah ia memiliki jumlah anak buah yang banyak dan masing-masing memiliki jenis pekerjaan yang variatif; atau sebaliknya? Dan sampai dimana tingkat otoritas dan tanggungjawab jabatan ini dalam menggerakkan orang lain. Sekali lagi, tanggungjawab apoteker di apotek spektrumnya sungguh luas, mulai dari teknis kefarmasian sampai aspek bisnisnya agar apotek dapat bertahan dietnagh persaingan yang sangat ketat.
Demikianlah, berdasar empat faktor diatas maka terlihat bahwa “harga apoteker” sebenarnya tidak boleh dinilai terlalu murah. Tugas dan tanggungjawabnya tidak ringan. Apalagi bila tercapai keadaan dimana “nyawa “ apotek tergantung apoteker.
Jadi bagi sejawat yang merasa masih diperlakukan “undervalued“, cobalah introspeksi. Faktor mana yang paling dominan memberikan kontribusi sehingga sejawat berada dalam posisi “undervalued”. Jangan jangan kondisi tersebut terjadi karena sejawat hanya dihargai kompetensi formalnya saja karena tidak pernah datang ke apotek!
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.
“Jadi bagi sejawat yang merasa masih diperlakukan “undervalued“, cobalah introspeksi. Faktor mana yang paling dominan memberikan kontribusi sehingga sejawat berada dalam posisi “undervalued”. Jangan jangan kondisi tersebut terjadi karena sejawat hanya dihargai kompetensi formalnya saja karena tidak pernah datang ke apotek! ”
———————————————————–
kasih seribu jempol buat sobat
nyawa apotek berakar pada para apoteker,jadi semoga bangsa indonesia menjadi adil dan makmur seiring jasa dari para apoteker INDONESIA
MERDEKA…
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA
Semoga makin maju bangsa ini…
mohon maaf sobat,link sobat sudah saya add di blogroll saya,silahkan cek disini atas nama portal APOTEKER semoga sobat berkenan menjalin tali silaturahim dengan saya karena dengan artikel2 sobat dapat bermanfaat buat saya,saya tunngu “link back” nya,terimaksih..
—————————————————–
Butiku Palace
Kalau saya berpikir gini,
“undervalued“ apa tidak, semua tergantung pada kiprah seorang apoteker itu di apotek.
jangan berharap banyak ketika seorang apoteker yang berjiwa (”KORUP” atau tekab), bisa mendapat (VALUE atau”nilai”) atas diri/ profesinya.
dan sekarang masyarakat udah pinter…, mereka datang ke apotek bukan sekedar menebus resep, ato membeli obat.
mereka
1. sangat
2. sangat
3. dan sangat
MEMBUTUHKAN INFORMASI TENTANG OBAT DAN PENGOBATAN.
dan yang mempunyai kapasitas untuk menjelaskan itu,
hanya (the one and only)
seorang APOTEKER.
dan untuk itu meraka “TERNYATA” amat amat tidak keberatan di kenakan cass profesional fee. Itu sudah saya buktikan,
satu pengalaman terindah, ketika pasien itu datang lagi ke apotek kemudian kita menyapa serta menanyakan (review) KIE yang telah kita berikan dan si pasien menjawa, syukur pak terima kasih (anak) saya udah sembuh.
begitu leganya hati kita…..,
kita bisa tolong orang..,
PERTANYAANNYA SEBERAPA SERINGKAH ANDA MERASAKAN HAL ITU
bagi saya itu merupakan value nya…,
dan value yang bersifat finansial itu pasti mengikuti…,
Apakah Apoteker di Apotek Under Valued ?
Tentu Saja…
Tidak…
Tahu…
seharusnya seorang apoteker mendapatkan honor berasal dari pekrjaan profesinya . Saya tidak setuju seorang apoteker memperoleh pendapatan dari keuntungan menjual obat ,hal ini justru akan merendahkan profesi apoteker. Profesi apoteker harus bisa mendifinisikan wilayanh kompetensi profesinya ,misalnya membuat salp ,puyer ,syr dll. kalau apoteker mendapatkan honor profesi dari penjualan obat ,maka akan membebani masyarakat. Sudah menjadi rahasia umum bahw apotek menyumbang 30-40% kemahalan harga obat ,kalau begini sama saja dengan dokter yang kolusi dengan obat.
ayo apoteker, sdh saatnya kita jd boss di apotek kita sendiri, jgn mau jd orang gajian. Aktualisasikan diri kita di apotek maka kita akan pede, inilah saya apoteker…
huufft….saya bersyukur karena ternyata masih banyak apoteker2 yang patient oriented ketimbang money oriented.
Memang seharusnya apotek adalah rumah kita yang selalu kita jaga dan layani setiap tamu yang datang.
Saya amat sangat setuju dengan pak agung hendro bahwa value yang sebenarny adalah melihat kepuasan customer kita atas pelayanan kesehatan yang telah kita berikan
Semoga Apoteker di Indonesia benar2 dapat menjalankan dan mengabdikan profesinya sebagaimana mestinya
Hiduup Apotker..!!!
Saya berada disuatu daerah (wilayah) dimana ada 7 apotek biasa, apotek milik dokter & beberapa apotek rakyat/sederhana.Diantara apotek2 ini hanya ada satu apotek yang apotekernya hadir selama jam buka apotek.
Jadi saya agak heran juga apakah daerah saya ini keterlaluan karena dari komentar diatas kesan saya apoteker2 selalu hadir diapotek. Kapan IAI mengadakan survey berapa banyak apotek yang hadir diapotek dan bagaimana job-description-nya sehingga kita tidak bicara berdasarkan sample dari beberapa apotek. Saya sering bertanya kalau mengunjungi apotek rantai yang keren2 itu apa apoteker yang namanya tercantum sebagai apoteker pengelola ada ditempat bisa dihubungi tetapi umumnya jawabannya tidak ada ditempat. Yang bertugas ada mahasiswa senior fakultas farmasi. Bagaimana ya?.
Saya berada disuatu daerah (wilayah) dimana ada 7 apotek biasa, apotek milik dokter & beberapa apotek rakyat/sederhana.Diantara apotek2 ini hanya ada satu apotek yang apotekernya hadir selama jam buka apotek.
Jadi saya agak heran juga apakah daerah saya ini keterlaluan karena dari komentar diatas kesan saya apoteker2 selalu hadir diapotek. Kapan IAI mengadakan survey berapa banyak apotek yang hadir diapotek dan bagaimana job-description-nya sehingga kita tidak bicara berdasarkan sample dari beberapa apotek. Saya sering bertanya kalau mengunjungi apotek rantai yang keren2 itu apa apoteker yang namanya tercantum sebagai apoteker pengelola ada ditempat bisa dihubungi tetapi umumnya jawabannya tidak ada ditempat. Yang bertugas ada mahasiswa senior fakultas farmasi. Bagaimana ya?.