Persaingan antar apotek saat ini semakin ketat. Meski sejatinya merupakan tempat pengabdian profesi, namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa persaingan yang ada tidak ubahnya dengan persaingan yang terjadi pada usaha dagang. Saking ganasnya persaingan, tidak jarang pola persaingan yang terjadi menjurus ke win-lose situation karena kiblatnya adalah killing for survival.
Situasi saling membunuh terjadi karena rata-rata apotek masih menerapkan cara pemasaran yang konvensional. Mereka pada umumnya mengandalkan rational intelligent: produk bagus dan harga murah. Konsumen dibiasakan memilih apotek berdasarkan tinggi-rendahnya harga obat yang dijual. Pada level ini pasien atau konsumen sangat mudah berpindah bila ada perbedaan harga. Dalam dunia pemasaran cara ini dikenal juga dengan istilah marketing 1.0.
Beberapa apotek secara sadar telah meninggalkan konsep marketing 1.0 dengan mengedepankan konsep emotional intelligent (marketing 2.0). Pasien atau konsumen diperlakukan sedemikian rupa sehingga tersentuh hatinya. Misalnya dengan pendekatan personal yang lebih intensif. Konsumen disapa dengan menyebut namanya. Pasien ditelpon untuk memantau perkembangan kesehatannya. Memberikan pelayanan pengambilan resep dan pengantaran obat ke rumah pasien. Dan cara-cara lain yang membangkitkan emosi positif konsumen. Dengan cara ini meski harga jual lebih mahal dibanding yang lain, tapi tetap dipilih konsumen, sebab konsumen sudah memiliki ikatan emosional dengan apoteknya.
Namun pada saat ini, dengan semakin teredukasinya konsumen, pendekatan pemasaran menggunakan konsep marketing 2.0 sudah tidak memadai lagi. Sekarang pendekatan pemasaran sudah harus menggunakan pendekatan spiritual intelligent (marketing 3.0). Aktivitas apotek harus dilakukan berlandaskan nilai-nilai universal seperti kasih dan ketulusan.
Model untuk pendekatan ini adalah Values-driven marketing. Wujudnya akan terlihat dari seberapa dalam hubungan hubungan apotek dengan konsumen atau stakeholder-nya. Wujud spiritualismenya adalah bagaimana mencintai jejaring stakeholder apotek dan menjunjung tinggi kejujuran. Jika sudah sampai tahap spiritual sedemikian itu, hubungan antara apotek dengan siapapun yang berkepentingan, apakah itu konsumen, karyawan, supplier, akan langgeng terus.
Pola pemasaran yang demikian menuntut keterlibatan apoteker secara langsung. Banyak hal-hal yang berkaitan dengan konsumen tidak bisa didelegasikan. Proses skrining resep, pemberian asuhan kefarmasian maupun aktivitas lain dalam upaya mempertontonkan bentuk kasih dan ketulusan akan lebih efektif bila dikerjakan langsung oleh apoteker. Dengan demikian, hal ini bisa juga berarti perwujudan dari dari konsep no pharmacist no service.
Jadi sudah siapkah anda, sejawat ?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker, pemerhati kefarmasian, yang terpanggil untuk memberikan kontribusi aktif dalam proses mewujudkan eksistensi profesi apoteker di Indonesia.
Leave a comment