Archive for the ‘ Kontribusi Sejawat ’ Category

Sudahkan Presepsi Kita Sama ?

Sejawat, maafkan kalau lebih dari 2 bulan saya absen memperbaharui isi portal ini. Tidak perlu banyak alasan, kecuali kealpaan saya mengombinasikan waktu dan gagasan, pemikiran atau ispirasi menjadi tulisan akibat cara saya mengelola waktu yang tidak efektif.

Dalam kurun waktu tersebut banyak topik mengenai PP 51/2009 terdengar, terbaca maupun terucap pada beberapa kesempatan. Media yang dipakaipun beragam. Namun yang menarik, ternyata ada fenomena ketidaksamaan presepsi diantara kita dalam memaknai PP tersebut.

Oleh karena itu, ijinkanlah saya menyudahi tulisan ini sampai disini dan mengundang sejawat untuk berpendapat melalui fasilitas komentar yang tersedia dibawah ini.

Mari kita berbagi…

Possibly Related Posts:


Artikel ini ditulis oleh sejawat Aluwi Nirwana Sani

Kematian 9 penduduk dan dirawatnya sekitar 579 orang (Kompas.Com 17/11) di beberapa kecamatan kabupaten Bandung sangat memprihatinkan kita semua dan ini merupakan sebuah kecelakaan yang tidak boleh terulang lagi. Kasus ini memerlukan pengkajian yang menyeluruh dan tindakan yang nyata dari pimpinan pusat dan daerah, bukan sekedar pernyataan.

Dalam penyataannya yang bersifat normatif, Menkes justru menyalahkan tragedi ini kepada korban. Menkes menyatakan (ANTARA NEWS 17/110) bahwa tragedi ini terjadi bukan karena obat anti-filariasis, akan tetapi karena pasien mempunyai penyakit lain. Pernyataan ini sangat tidak membangun karena selain fakta yang sangat jelas, dimana banyak sekali korban yang jatuh pada saat yang bersamaan dan terjadi di daerah tertentu. Kondisi ini memberi sinyal, pasti ada yang tidak benar dan memerlukan perhatian serius.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Siapkah Kita Menjadi Apoteker Era Web 2.0 ?

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putra

Kualitas derajat kesehatan masyarakat terkait erat dengan keunggulan sumberdaya manusianya. Sementara upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tak dapat dilepaskan dari unsur pelayanan kesehatan sebagai salah satu pilar pentingnya. Tenaga kesehatan, dengan dijiwai etika profesi, adalah yang menggerakkan proses pelayanan kesehatan tersebut.

Sekian masa ke belakang, profesi tenaga kesehatan merupakan profesi luhur yang sangat dihormati dan dijadikan panutan. Apakah saat ini masih demikian kondisinya? Adalah sebuah ironi ketika tenaga kesehatan malah menjadi bagian dari masalah dan bukannya menjadi solusi dari sekian permasalahan bangsa terkait kesehatan.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Apotek Tanpa Obat

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putra

 

Selama ini apotek memang lebih banyak dipersepsikan semata sebagai tempat transaksi obat, tidak lebih. Padahal apotek juga dapat (dan seharusnya memang) menyediakan layanan konsultasi kefarmasian, mengkampanyekan pengetahuan tentang obat, menjalankan fungsi promosi kesehatan, bahkan leluasa memberikan alternatif obat jika pasien keberatan dengan harga obat yang diresepkan. 

Saking salah kaprahnya, dapat dikatakan bahwa apotek di Indonesia kalah pamor dari toko obat. Bahkan secara ekstrim apotek nyaris tidak bisa dibedakan dengan toko obat – selain dari persoalan harga – karena penyaluran obat keras yang hanya boleh didapatkan di apotek pun kerap terjadi di toko obat.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putera

 

Telah mafhum diketahui bahwa obat merupakan komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan bahkan penggunaan obat dapat mencapai 40 % dari seluruh komponen biaya pelayanan kesehatan. Pada bulan September 2008, Menkes sempat menyatakan bahwa harga obat tidak akan naik sampai 2009, namun bagaimanapun pengaruh krisis ekonomi global menjalar ke hampir setiap aspek kehidupan, termasuk kebutuhan bahan baku obat yang selama ini banyak bergantung dari impor.

Sekitar bulan Juli 2007 lalu, marak diberitakan tentang pembahasan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian dimana salah satu butir RPP tersebut adalah perihal dibolehkannya apoteker mengganti obat yang diresepkan dengan obat untuk jenis penyakit yang sama dengan harga yang lebih murah.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts: