Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putera

 

Telah mafhum diketahui bahwa obat merupakan komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan bahkan penggunaan obat dapat mencapai 40 % dari seluruh komponen biaya pelayanan kesehatan. Pada bulan September 2008, Menkes sempat menyatakan bahwa harga obat tidak akan naik sampai 2009, namun bagaimanapun pengaruh krisis ekonomi global menjalar ke hampir setiap aspek kehidupan, termasuk kebutuhan bahan baku obat yang selama ini banyak bergantung dari impor.

Sekitar bulan Juli 2007 lalu, marak diberitakan tentang pembahasan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian dimana salah satu butir RPP tersebut adalah perihal dibolehkannya apoteker mengganti obat yang diresepkan dengan obat untuk jenis penyakit yang sama dengan harga yang lebih murah.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Sebegitu Rendahkah Profesi Apoteker?

Sebenarnya saya sudah agak lama membaca artikel yang berjudul Menulis Fungsi Obat di blognya CakMoki dan artikel Dokter-Apoteker cs apa vs ? di blognya sejawat Zullies. Semula saya kurang menaruh perhatian terhadap isi kedua artikel. Namun setelah saya membaca tulisan yang mengkritisi buku berjudul Pasien Pintar dan Dokter Bijak  yang ditulis oleh sejawat Dika, saya jadi teringat kedua artikel tadi.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Krisis Ekonomi, Harga Obat, Dokter, Apotek, Apoteker

Sepertinya negara kita tetap tidak bisa terhindar dari pengaruh krisis ekonomi yang melanda Amerika dan negara-negara di Eropa. Beberapa indikator ekonomi makro sudah menunjukkan fenomena tersebut. Penurunan nilai tukar rupiah, penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dan kenaikan suku bunga SBI adalah beberapa indikator yang bisa kita lihat. Padahal beberapa analis mengatakan dampak nyata akibat krisis ekonomi baru akan terasa 3 – 6 bulan kedepan, karena pada saat itu nilai ekspor kita akan mulai mengalami penurunan dan bila kita tidak bisa mengendalikan impor bisa bisa neraca perdagangan kita akan mengalami defisit.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Apotek Panel

Salah satu cara cepat untuk meningkatkan omzet apotek adalah menjadikan apotek sebagai miniatur PBF. Selain melayani pasien atau konsumen (end user), apotek juga melayani dokter atau poliklinik. Seperti kita tahu dokter di lokasi-lokasi yang terpencil dan jauh dari apotek dimungkinkan untuk dispensing. Karena itu apotek tersebut harus memiliki persediaan dalam jumlah yang lebih besar dan lengkap. Dalam batasan tertentu hal ini diperbolehkan oleh undang undang.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Haruskah Apotek = Supermarket Obat ?

Secara bebas kita bisa mendefinisikan supermarket sebagai tempat belanja aneka macam barang kebutuhan. Ada semacam kesepakatan dikalangan awam, kalau skala usahanya  sangat besar diberi istilah hypermarket, yang menengah supermarket dan yang kecil dinamakan minimarket. Ketiganya kini tumbuh demikian cepat di negara kita.

Dari macam maupun jenis barang yang disediakan jelas bahwa tujuan pendiri supermarket adalah memberikan pelayanan one stop shopping bagi pelanggannya. Oleh karenanya kelengkapan barang dagangan merupakan salah satu faktor kunci kesuksesan.

Ditilik dari sudutpandang diatas ada kemiripan antara apotek dan supermarket. Untuk meningkatkan dan menjaga pelayanan, apotek berusaha agar memiliki persediaan barang yang lengkap. Tidak heran bila apotek yang demikian biasanya menjadi rujukan baik bagi pasien maupun apotek lainnya.

Menjadikan apotek seperti supermarket obat sah-sah saja sepanjang memiliki dukungan modal yang cukup. Namun semuanya tetap harus memperhitungkan tingkat profitabilitasnya. Maka dari itu kecepatan perputaran persediaan tidak boleh diabaikan. Disinilah, konon, seni dan tantangannya.

Sebenarnya untuk membaca permintaan pasar relatif mudah asalkan kita tahu pola penyakit, demografi penduduk dan gaya hidup mereka. Tetapi membaca selera dokter bukan perkara yang sederhana. Permintaan pasar yang tercermin dalam nama generik bisa terprediksi, tapi meramal merek yang akan diresepkan dokter tidak gampang (kecuali ada informasi dari pabrik obat).

Obat dengan nama generik yang sama biasanya memiliki merek lebih dari satu bahkan banyak yang lebih. Bila apotek kita mencoba untuk memiliki persediaan yang lengkap maka kita harus menyediakan merek merek yang ada. Sekali dokter beralih merek, mati kutulah kita.

Bila hal itu terjadi, upaya yang bisa kita lakukan adalah minta tolong dokter untuk meresepkan (tapi kolusi bukan ya?). Atau kita tukar menukar persediaan dengan apotek lain (kalau mereka mau dan butuh). Yang lebih celaka lagi  kita tidak bisa melakukan program sale untuk obat-obat daftar G yang masuk kategori slow moving. Akhirnya bisa kedaluarsa kalau tidak terpecahkan.

Pertanyaan yang saya ajukan sebagai judul diatas  merupakan gugatan  terhadap kondisi yang ada.  Karena meski banyak keluhan tetapi belum ada yang berbuat. Sejauh ini apotek (seolah-olah) tetap harus diposisikan sebagai supermarket atau minimal minimarket obat. Ketidaklengkapan persediaan beresiko menurunkan tingkat pelayanan. Padahal biaya modal tidak murah. Jangan jangan (atau malah sudah?) nasib apotek bermodal kecil bisa seperti toko kelontong yang mati pelan pelan karena hadirnya minimarket.

Bagaimana sejawat? Apa yang harus kita perbuat untuk mengubah keadaan?

Possibly Related Posts: