Pharmacies Use Incentives to Attract New Customers

While retail pharmacies have been offering incentives for consumers to switch their prescriptions for years, many are hoping that new types of coupons may fan sales into new life. During a difficult economic time, when some consumers delay filling their prescriptions or stop taking medications, pharmacies are looking for new ways to get business.

One creative new program from CVS rewards loyal customers with $2.00 off their prescriptions. From May 1 through June 15, CVS is offering $2.00 in “Extra Bucks” to customers who use the CVS “ExtraCare” rewards card to purchase their prescriptions. The “Extra Bucks” are issued to customers in the ExtraCare program quarterly.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Pharmacist School Prepares You For a Lucrative Career

Sejawat apoteker yang budiman, apa tanggapan spontan sejawat atas pernyataan yang saya jadikan judul artikel ini diatas ? 

(a)  Setuju    (b)  Tidak Setuju    (c)   Tidak Tahu    

Kalau sejawat ingin membaca isi dari judul tulisan tersebut, silahkan klik blog ini. Maaf, saya tidak terafiliasi atau berkepentingan dengan blog tersebut. Saya hanya berpikir begitu tingginya daya jual profesi apoteker sehingga sebuah blog yang mengkhususkan tentang peluang bisnis sampai berani menyimpulkan bahwa sekolah di farmasi menjanjikan karir yang sangat menguntungkan.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Siapa Yang Harus Menjunjung Tinggi Kode Etik?

Di beberapa tulisan saya seperti disini, atau disini, dan juga disini saya secara gamblang mencoba menggiring kesimpulan bahwa apotek semestinya bukan semata-mata sebuah institusi bisnis, tapi lebih sebagai tempat pengabdian profesi seorang apoteker. Kegiatan utama apotek dengan demikian adalah menyalurkan asuhan kefarmasian kepada konsumen/pasien di area operasionalnya bukan sekedar menjual obat saja. 

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Seberapa Jauh Keterlibatan Apoteker?

Minggu lalu Badan POM mengumumkan 5 merek obat tradisional impor, 14 obat tradisional lokal, 2 suplemen makanan lokal dan 1 suplemen makanan impor ditarik dari peredaran karena mengandung bahan kimia obat Sildenafil Sitrat atau Tadalafil. Yang cukup mengejutkan, diantara ke 22 merek tersebut ada obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi papan atas yang setahu saya menaruh perhatian cukup tinggi terhadap aspek CPOB.

Terus terang saya ragu dan cenderung tidak percaya. Saya menilai perusahaan tersebut tidak mungkin berani berbuat tidak terpuji untuk mendapatkan keuntungan yang tidak seberapa dibanding resiko yang harus ditanggung. Namun apa boleh dikata, Badan POM mengeluarkan perintah penarikan tidak mungkin memakai asumsi. Mereka pasti memiliki bukti.

Lalu apa yang bisa kita petik dari kasus ini ?

Saya berpendapat kasus ini adalah sebuah tamparan bagi profesi apoteker. Proses produksi dan pengendalian mutu obat di industri farmasi adalah tanggungjawab apoteker. Apoteker bertanggungjawab penuh terhadap kualitas obat yang dihasilkan oleh sebuah industri. Pencampuran bahan kimia berkhasiat obat diluar komponen yang disetujui Badan POM dalam proses registrasi adalah pelanggaran berat.

Sesuai aturan dalam CPOB setiap proses produksi obat harus disertai batch record (catatan pengolahan batch). Catatan ini memuat semua bahan baku, bahan pembantu dan bahan pengemas beserta jumlahnya, jalannya proses produksi, dan hal-hal lain yang terkait dengan proses produksi. Bila di kemudian hari ditemukan masalah maka dengan batch record penyebab masalah akan mudah ditelusuri.

Penambahan bahan kimia berkhasiat obat diluar kandungan resmi atau pelanggaran dalam bentuk lain secara logika tidak akan dicatat dalam batch record . Pencatatan pelanggaran yang disengaja dalam batch record sama dengan tindakan konyol karena penyimpangan ini akan dengan mudah ditemukan.

Dalam kasus tersebut ada 3 kemungkinan penyebabnya. Pertama apoteker penanggungjawab tahu dan menyetujui tindakan tidak bertanggungjawab tersebut. Kedua apoteker  tahu tetapi tidak kuasa menolak. Ketiga apoteker sama sekali tidak tahu. Tapi apapun alasannya, apoteker tetap harus bertanggungjawab karena penambahan bahan kimia lain menyebabkan spesifikasi produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Diluar ke 3 kemungkinan diatas masih ada kemungkinan lain. Bila hasil penelusuran batch record dan hasil pemeriksaan laboratorium independen tidak ditemukan adanya penambahan bahan kimia lain maka bisa jadi Badan POM yang keliru. Tetapi bila itu sampai terjadi berarti kredibilitas Badan POM patut dipertanyakan.

Nah, yang perlu diklarifikasi adalah apakah apoteker ikut terlibat, apoteker dipaksa terlibat atau apoteker dibuat tidak tahu. Apabila apoteker terlibat maka jelas ini adalah sebuah konspirasi. Kalau apoteker dipaksa terlibat maka ini adalah ketidakmampuan yang bersangkutan untuk menjunjung tinggi otonomi profesionalnya. Jika apoteker dibuat tidak tahu maka yang bersangkutan teledor dan patut dipertanyakan kompetensinya.

Namun tetap harus diingat, apapun yang terjadi pada akhirnya apoteker sebagai penanggungjawab produksi maupun pengendalian mutu harus memikul resikonya.

Jadi..?

Possibly Related Posts:


Gerakan Jangan Masuk Farmasi

Wow.., semalam saat saya blogwalking, saya menemukan sebuah tulisan menarik yang berjudul Gerakan Jangan Masuk Farmasi disini. Isinya kurang lebih ungkapan emosional seorang apoteker tentang susahnya menempuh pendidikan di fakultas farmasi, persaingan antar apoteker yang kian ketat, adanya kewajiban uji kompetensi sampai kompensasi apoteker yang tidak sebanding. Saking emosionalnya, si penulis sampai menyarankan kepada semua pihak yang berkepentingan untuk tidak kuliah di farmasi. Luar biasa..

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts: