Subsidi Obat Untuk Siapa ?

Menteri Kesehatan dalam pernyataannya pada hari Senin 12/01/09 lalu mengatakan bahwa untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan pemerataan obat di seluruh wilayah nusantara sebagai antisipasi bila terjadi resesi ekonomi, Pemerintah akan meluncurkan program obat generik bersubsidi (OGS). Bahkan menurut Kompas, program subsidi kali ini akan diperluas cakupannya ke obat generik bermerek asalkan harganya mengikuti ketentuan maksimal 3 kali harga obat generik bersubsidi. Kalau hal tersebut terlaksana, berarti ini kali ke 2 Pemerintah meluncurkan program yang sama. Program subsidi yang pertama dilakukan pada awal tahun 1998 yang lalu.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Malaikat Juga Tahu, Apa Kita Tidak Malu?

Kegiatan memasarkan obat adalah kegiatan paling penting bagi sebuah industri farmasi. Layaknya industri yang lain, sebagus apapun produk akan sia sia bila tidak dikenal dan dibeli oleh konsumen. Yang dilakukan oleh industri farmasi pada hakekatnya bukanlah memasarkan zat zat kimia -meski faktanya sebenarnya demikian- melainkan memasarkan informasi. 

Seperti kita ketahui, mayoritas industri farmasi, khususnya yang lokal, tidak memiliki basis riset yang memadai. Apa yang mereka lakukan tidak lebih dari sekedar membuat formula dan mewujudkannya menjadi obat. Secara teknis permasalahan formulasi dan pabrikasi mampu dipecahkan oleh para apoteker sehingga hampir seluruh jenis obat bisa dihasilkan secara lokal. Produk produk yang masih harus diimpor biasanya karena terkendala skala ekonomi yang berkorelasi dengan angka keefesienannya.  

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Merasionalkan Harga Obat

Tanggapan para sejawat pada tulisan saya yang berjudul (Harga) Obat yang Rasional menyiratkan sebuah kesimpulan bahwa harga obat generik bisa dijadikan patokan harga obat yang rasional. Kesimpulan ini perlu digarisbawahi karena di lapangan harga obat bermerek yang harganya jauh lebih tinggi dari generik banyak beredar dan bahkan menjadi pilihan para dokter. Kalau porsi obat generik hanya 10% dari total pasar farmasi yang nilainya sekitar Rp 28 trilyun, berarti berapa banyak pemborosan dilakukan oleh bangsa ini untuk belanja obat yang (harganya) tidak rasional ?

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Kenaikan Harga, Adakah Hubungannya Dengan Inefesiensi?

Pengaruh krisis ekonomi global mulai berdampak terhadap obat generik. Dalam pernyataannya, Menteri Kesehatan mengatakan bahwa harga obat generik pada tahun 2009 dipastikan naik. Memang masih ada opsi lain untuk mempertahankan harga yaitu memberikan subsidi. Namun opsi tersebut masih harus dikaji terlebih dahulu.

Angka kasar menunjukkan bahwa porsi obat generik terhadap total pasar obat di Indonesia adalah sekitar 10%. Dengan logika sederhana, apabila diasumsikan harga obat generik rata-rata 20% dari harga obat bermerek, maka secara kuantum porsi obat generik mendekati 30% dari volume obat beredar. Sebuah angka yang terlalu kecil.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


(Harga) Obat yang Rasional

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, sewaktu saya mulai pakai handphone (hape),  pilihan para pemakai pemula – tidak terkecuali saya – adalah hape merek Nokia type N5110. Hape tersebut sangat terkenal sehingga sempat dijuluki hape sejuta umat. Selain harganya terjangkau, sekitar Rp. 1,5 juta, fiturnya cukup lengkap dan user friendly. Boleh dibilang hape Nokia N 5110 layak disebut hape of choice, pilihan utama mayoritas pengguna hape.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts: