Kecenderungan untuk berkumpul rupanya sudah menjadi kebiasaan kita. Tidak terkecuali dalam perapotekan. Distribusi apotek cenderung terkonsentrasi pada daerah tertentu yang sudah ramai. Pada daerah daerah seperti itu tidak jarang jarak antar apotek bisa sangat dekat. Banyak apotek yang berjarak kurang dari 100 meter dari apotek lainnya.
Ketatnya persaingan disatu sisi dan rendahnya daya beli masyarakat disisi yang lain adalah 2 faktor dominan yang berpengaruh terhadap daya tahan apotek. Menghindari persaingan langsung dengan memilih lokasi yang jauh dari apotek lain bisa menghemat biaya tempat tapi harus mempunyai nafas yang kuat sampai mendapat pangsa pasar yang memadai. Dengan asumsi sewa tempat Rp 2 juta per bulan dan biaya-biaya lain sebesar Rp 3 juta maka agar secara operasional impas omset minimal harus sebesar Rp 25 juta. Untuk sebuah apotek yang baru berdiri angka tersebut cukup berat. Apalagi kalau lokasinya jauh dari tempat praktek dokter atau rumah sakit.
Bagaimana menyiasati hal tersebut?
Keputusan Menteri Kesehatan No.1332/Menkes/SK/X/2002 tentang persyaratan dan prosedur perijinan apotek diantaranya menyebutkan bahwa sarana apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi. Disamping itu apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi.
Keputusan Menkes diatas merupakan peluang untuk menyiasati masalah. Secara harafiah tersurat bahwa apotek bisa dikombinasikan dengan usaha yang lain. Tinggal bagaimana kreativitas kita. Sebagai acuan mungkin kita bisa melakukan benchmark dengan usaha SPBU (pom bensin). Sekarang banyak minimarket, gerai donat bahkan oulet laundry yang berdiri dilokasi SPBU.
Pernahkah terpikirkan oleh sejawat untuk melengkapi apotek dengan (misalnya) warung internet dan digital printing?
Possibly Related Posts:
- Bagaimana dengan Kurikulum Fakultas Farmasi yang lain ?
- Apoteker dan Praktek Kefarmasian
- Sudahkan Presepsi Kita Sama ?
- Akankah Obat Generik Semakin Menarik ?
- Menyasar Niche Market, Mengapa Tidak ?
Mohamad Dani Pratomo. Apoteker.