Pharmaceutical Care Sarana Menciptakan Nilai

Dalam kegiatan yang bersifat ekonomis pertambahan nilai (value added) adalah perubahan yang dialami oleh produk atau jasa karena proses penciptaan nilai (value creation). Pertambahan nilai bisa berasal dari perubahan bentuk karena proses produksi atau perubahan tempat/lokasi karena proses distribusi. Bentuk ekonomis dari pertambahan nilai tercermin pada selisih harga jual dengan harga perolehan.

Pertambahan nilai berkorelasi dengan keunikan, perbedaan dan ciri khas sebuah produk atau jasa dibandingkan dengan pesaingnya. Produk atau jasa yang berbeda bermakna dengan pesaingnya berkesempatan untuk mendapatkan pertambahan nilai yang besar. Oleh karenanya wajar bila tantangan terbesar bagi pelaku ekonomi adalah bagaimana menciptakan nilai agar tercipta perbedaan untuk mendapatkan pertambahan nilai yang maksimal.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Bulan Puasa, Bulan KIE Bagi Apotek

Sebentar lagi umat Islam akan menjalankan ibadah puasa. Meski sudah menjadi ritual rutin tapi umat Islam menyambut dan memperlakukannya secara istimewa setiap tahun. Berbagai hal dipersiapkan secara khusus. Tidak heran bila konsumsi rumah tangga justru meningkat tajam. Boleh dibilang roda ekonomi berputar lebih cepat pada bulan puasa.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Pharmaceutical Care = Blue Ocean Strategy?

Orientasi apotek dalam paradigma baru adalah pharmaceutical care bukan produk. Apotek harus mengedepankan proses komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) bagi pasien dalam aktifitasnya.  Perubahan orientasi ini merupakan proses transformasi untuk memperkokoh citra apotek sebagai tempat pengabdian profesi bagi apoteker. 

Konsekuensi logis dari perubahan orientasi tersebut meningkatkan aktifitas konsultasi. Proses konsultasi harus ditangani langsung oleh apoteker. Dengan pola pemikiran yang demikian maka kita lebih mudah memahami konsep TATAP (Tiada Apoteker Tiada Pelayanan).

Pada saat ini belum banyak apotek yang menerapkan pharmaceutical care. Wajar saja karena transformasi baru dimulai dan membutuhkan waktu dalam prosesnya. Karena itu tidak heran kalau persaingan antar apotek lebih didominasi oleh harga dan hal hal yang terkait langsung dengan trik dagang.

Dalam tulisan sebelumnya saya mengulas tentang pentingnya blue ocean strategy bagi apotek. Penerapan blue ocean strategy yang tepat akan membuat apotek memiliki keunggulan kompetitif dan terhindar dari persaingan dagang. Dalam konteks ini maka pharmaceutical care adalah sarana untuk menciptakan blue ocean strategy.

Meskipun terdapat acuan baku tentang pharmaceutical care tetapi penerapannya dilapangan sangat tergantung pada kompetensi apoteker dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan pasien. Masing masing apoteker memiliki karakteristik yang unik. Bisa saja hal ini di standarisasi, tetapi dominasi kepribadian individu apoteker tetap akan terlihat dalam prakteknya.

Nah.., setujukah sejawat dengan pendapat saya?

Possibly Related Posts:


Peluang Bagi Apoteker

Dr Hendrawan Nadesul menulis opini di harian Kompas 19 Maret 2008 hal 59 berjudul Rakyat Sehat, Urusan Siapa ? Dikatakannya bahwa dalam sepuluh tahun ke depan, wabah penyakit menahun dunia diproyeksikan bakal membunuh 388 juta jiwa. Penyakit jantung, paru paru, kencing manis dan kanker sudah mengisi tiga per lima kematian yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Kegemukan membunuh jutaan jiwa hanya karena rakyat salah pilih menu, keliru bergaya hidup. (artikel lengkap silahkan klik disini)

Melihat fenomena tersebut apa kontribusi yang bisa kita berikan untuk membantu menyehatkan rakyat ? Banyak. Salah satunya, saya melihat hal ini sebagai peluang bagus bagi kita untuk mempromosikan apotek. Dalam konteks program Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kita bisa membuat brosur tentang tips cara hidup sehat. Brosur dibuat sedemikian sehingga memicu rasa penasaran pembaca, yang pada ujung-ujungnya mempersilahkan pembaca untuk datang ke apotek. Distribusi brosur bisa dilakukan lewat loper koran. Jadi sambil menyelam bisa sekaligus minum air.

Namun perlu diingat konsekuensinya. Karena kita sudah mengundang tamu (baca konsumen) ke rumah kita, maka mau tidak mau kita harus bisa menjadi tuan rumah yang baik. Maksudnya, jangan sampai ada tamu ke rumah tapi kita tidak di rumah. Persiapkan segela sesuatunya secara profesional. Layani tamu dengan sebaik mungkin. Catat data diri konsumen dan keluarganya. Hubungi konsumen beberapa hari kemudian. Kirim surat atau email sebagai wujud perhatian. Saya yakin dengan cara ini akan timbul rasa empati dari konsumen.

Sadar atau tidak dengan cara seperti ini kita akan mempunyai database konsumen. Mengingat bahwa konsumen ingin diperlakukan secara lebih personal, maka keberadaan database akan sangat membantu.

Jadi kalau pertanyaannya di ulang, rakyat sehat urusan siapa? Beranikah kita menjawab, urusan apoteker (juga) …

Possibly Related Posts: