Polemik Dokter Dispensing, Kesaksian Pasien

Artikel berikut saya salin dari The Star Online edisi Rabu 9 April 2008. Maksudnya sebagai kelanjutan berita sebelumnya mengenai pro kontra larangan dispensing bagi dokter di Malaysia. Saya salut dengan sejawat yang bertugas di apotek tersebut karena telah berhasil memberikan pelayanan yang berkesan kepada konsumennya. Sayang si penulis tidak menyebutkan siapa apoteker yang dimaksud. Tapi paling tidak berkat pelayanan yang diberikan, konsumen berkata jujur tentang pengalamannya. Inilah barangkali yang disebut keampuhan word of mouth. Silahkan disimak.

Impressed with service at pharmacy

The public should be informed about the advantages of dispensing separation. I would like to share one of my experiences with readers. During my study abroad in Indonesia, I went to a clinic there to see a doctor for some kind of skin rash that I had.

After the doctor made the diagnosis, he told me that I had a bacterial infection and he prescribed an antibiotics regime and painkiller. I brought the prescription to the pharmacy (in Indonesia it is called apotek) to get it filled. What I like about the pharmacist there is that she asked me further questions about my skin rash and diagnosed that my condition was only an allergic reaction and not a bacterial infection. She immediately telephoned the doctor asking him to change the prescription and the family doctor agreed to change the antibiotics with either steroid cream or antihistamine.

The pharmacist further told me to choose between the antihistamine tablets and steroid cream, saying that the antihistamine is costlier than the cream but convenient. Since I was on a tight budget, I chose the cheap one even though it was inconvenient, and my condition finally improved. Dispensing separation is a good thing; it helps the patient to get involved even more with the healthcare system.

Patients will also know their rights more on medication therapy when they opt for a family pharmacist as well as family doctor. The Health Ministry should set a date when the separation will takes place, so that more pharmacies and 24-hour pharmacies can be opened near clinics.

SARA DANI MD,
Balok, Pahang.

Possibly Related Posts:


Mau Kemana Kita ?

Sebuah transformasi peran apoteker telah dimulai di Inggris. On Medica News mewartakan bahwa mulai tanggal 3 April 2008 Apoteker di Inggris memiliki peran lebih besar. Mulai hari itu apoteker diberi ijin memberikan resep untuk penyakit penyakit minor. Berita  selengkapnya silahkan klik disini.

Sebaliknya di Malaysia apoteker masih harus berjuang keras agar pemerintah segera menetapkan larangan bagi dokter untuk dispensing. Pro kontra tentang larangan itu masih tajam. Salah satu beritanya dapat dibaca disini.

Di negara kita peran apoteker sudah jelas seperti yang diatur dalam undang undang. Bahkan akan dijabarkan lebih detail dalam Peraturan Pemerintah tentang Tenaga Kefarmasian yang sedang dalam proses penerbitan. Bahwa di lapangan ditemui adanya dokter yang dispensing, itu jelas jelas penyimpangan.  Kondisi itu terjadi karena lemahnya pengawasan dan tidak aktifnya apoteker berperan.

Nah dengan dua contoh kondisi di atas, semestinya kita harus mawas diri.  Infrastruktur sudah relatif lengkap. Kita bisa menjadi apoteker seperti di Inggris atau sebaliknya  menjadi apoteker seperti di Malaysia (sekarang) sangat tergantung kepada kiprah kita.

Tidak perlu lagi berwacana. No pharmacist no service  bukan suatu pilihan, tapi keharusan. Jadi mestinya tidak ada lagi pembahasan.

Possibly Related Posts: