Mengganti (Merek) Obat Dalam Resep

Artikel ini ditulis oleh sejawat Fajar Ramadhitya Putera

 

Telah mafhum diketahui bahwa obat merupakan komponen penting dalam upaya pelayanan kesehatan bahkan penggunaan obat dapat mencapai 40 % dari seluruh komponen biaya pelayanan kesehatan. Pada bulan September 2008, Menkes sempat menyatakan bahwa harga obat tidak akan naik sampai 2009, namun bagaimanapun pengaruh krisis ekonomi global menjalar ke hampir setiap aspek kehidupan, termasuk kebutuhan bahan baku obat yang selama ini banyak bergantung dari impor.

Sekitar bulan Juli 2007 lalu, marak diberitakan tentang pembahasan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pekerjaan Kefarmasian dimana salah satu butir RPP tersebut adalah perihal dibolehkannya apoteker mengganti obat yang diresepkan dengan obat untuk jenis penyakit yang sama dengan harga yang lebih murah.

Read the rest of this entry »

Possibly Related Posts:


Mau Kemana Kita ?

Sebuah transformasi peran apoteker telah dimulai di Inggris. On Medica News mewartakan bahwa mulai tanggal 3 April 2008 Apoteker di Inggris memiliki peran lebih besar. Mulai hari itu apoteker diberi ijin memberikan resep untuk penyakit penyakit minor. Berita  selengkapnya silahkan klik disini.

Sebaliknya di Malaysia apoteker masih harus berjuang keras agar pemerintah segera menetapkan larangan bagi dokter untuk dispensing. Pro kontra tentang larangan itu masih tajam. Salah satu beritanya dapat dibaca disini.

Di negara kita peran apoteker sudah jelas seperti yang diatur dalam undang undang. Bahkan akan dijabarkan lebih detail dalam Peraturan Pemerintah tentang Tenaga Kefarmasian yang sedang dalam proses penerbitan. Bahwa di lapangan ditemui adanya dokter yang dispensing, itu jelas jelas penyimpangan.  Kondisi itu terjadi karena lemahnya pengawasan dan tidak aktifnya apoteker berperan.

Nah dengan dua contoh kondisi di atas, semestinya kita harus mawas diri.  Infrastruktur sudah relatif lengkap. Kita bisa menjadi apoteker seperti di Inggris atau sebaliknya  menjadi apoteker seperti di Malaysia (sekarang) sangat tergantung kepada kiprah kita.

Tidak perlu lagi berwacana. No pharmacist no service  bukan suatu pilihan, tapi keharusan. Jadi mestinya tidak ada lagi pembahasan.

Possibly Related Posts: